Konflik Iran Picu Perubahan Peta Kerja Sama Energi Global, Negara Konsumen Mulai Cari Alternatif

Peta Selat Hormuz. -- SS PRESS TV
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu perubahan peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen besar mulai mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif.

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga (Unair), Probo Darono Yakti, menjelaskan bahwa posisi Iran yang berada di kawasan Teluk menjadikannya aktor penting dalam sistem ekonomi global. Kawasan tersebut berhubungan langsung dengan distribusi energi dunia dan jalur perdagangan internasional.

Salah satu titik strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi rute vital bagi perdagangan energi dunia. Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global—melewati selat tersebut. Selain itu, hampir seperlima perdagangan LNG dunia juga melalui jalur yang sama.

“Setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berimplikasi pada ekonomi politik global. Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage ekonomi yang lebih besar,” jelasnya, dikutip Senin (16/3/2026).

Bacaan Lainnya

“Karena itu, konflik Iran memiliki bobot sistemik, bukan sekadar konflik regional,” ujarnya.

Dampak ke Pasar Energi dan Peta Kerja Sama Global

Eskalasi konflik berdampak langsung pada pasar energi global. Menurut Probo, pasar energi tidak hanya dipengaruhi oleh pasokan riil, tetapi juga oleh persepsi risiko. Harga minyak global mengalami kenaikan signifikan akibat gangguan tanker, perlambatan produksi, serta kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan akses Selat Hormuz.

Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, mulai dari biaya listrik, industri pelayaran, hingga harga pangan. Kondisi tersebut juga memengaruhi aktivitas industri di kawasan Asia karena terganggunya pasokan energi dan bahan baku petrokimia.

Dalam jangka menengah, konflik ini berpotensi mengubah peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen besar kemungkinan akan mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan yang rawan konflik.

Tantangan bagi Indonesia

Bagi Indonesia, situasi ini menimbulkan tantangan tersendiri. Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan global.

“Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya,” ungkap Probo.

Ia menambahkan bahwa konflik geopolitik seperti ini juga memicu pergeseran pada pasar keuangan global. Investor cenderung memindahkan modal ke aset yang lebih aman, sementara lonjakan harga energi dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan ketidakpastian investasi.

Negara Berkembang Paling Rentan

Menurut Probo, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan karena ruang fiskal terbatas dan ketergantungan energi tinggi. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi diversifikasi energi, menjaga stabilitas ekonomi domestik, serta mempercepat transisi energi.

“Keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Karena itu, respons terhadap konflik seperti ini harus dilihat tidak hanya dari sisi militer atau diplomasi, tetapi juga dari perspektif geoekonomi,” pungkasnya.***

Pos terkait