Denting suara gitar itu lahir dari sesuatu yang tak biasa. Bukan dari kayu mahoni, ebony, atau rosewood seperti lazimnya gitar akustik, melainkan dari sebongkah batu. Granit—dingin, keras, berat. Tapi siapa sangka, ketika berada di tangan ahlinya, dan dirancang penuh cinta, batu marmer pun bisa menjadi gitar pengiring bernyanyi.
_____
Nada-nada lahir dari batu marmer yang selama ini dianggap tak punya jiwa. Inilah kisah tentang bagaimana batu alam, teknologi, dan musikalitas bertemu dalam satu tubuh: yakni gitar marmer buatan anak bangsa.
Semua bermula dari satu obsesi lama. Peter S. Tjioe, pendiri dan Creative Director MM Galleri, bukan orang baru dalam dunia batu alam. Lebih dari tiga dekade ia bersahabat dengan marmer dan granit. Boleh dikata dia adalah maestro di bidang marmer. Ia sudah membentuk batu menjadi bak mandi, meja, bahkan topi. Tapi gitar? Itu adalah bentuk cinta sekaligus kegilaan.
“Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia lebih dari sekadar tukang furnitur. Kita punya teknologi, punya mimpi, dan kita bisa,” ucap Peter saat ditemui di MM Resto, Sidoarjo, Selasa siang yang gerah namun penuh antusiasme, 24 Juni 2025.
Gitar dari batu marmer bukan barang baru baginya. Ia pernah membuat dan memamerkannya di Italia hampir sepuluh tahun lalu. Tapi responsnya dingin. Gitar itu berat, suaranya belum sempurna. Lalu ia berhenti sejenak, berpikir ulang. Yang kurang bukan idenya—melainkan timnya.
Maka Peter merangkul dua nama penting. Ivan Winata, luthier yang dikenal jago membuat gitar handmade kelas dunia, dan Evelyn Jiang, penyanyi bersuara bening yang kerap tampil di panggung Asia. Tiga dunia bersatu dan berkolaborasi: desain batu, konstruksi musik, dan kepekaan nada.
“Ini bukan kolaborasi biasa. Kami datang dari disiplin berbeda, tapi punya tujuan sama: menciptakan suara dari sesuatu yang nyaris mustahil,” kata Ivan, serius tapi bersemangat. Ia tahu apa yang dicari telinga musisi. Ia tahu bagaimana suara dipengaruhi oleh bentuk, bahan, dan resonansi.
Membuat gitar dari batu bukan sekadar menempelkan senar ke atas marmer. Ada tantangan teknis yang kompleks: berat, struktur yang mudah retak, hingga sifat batu yang tidak seelastis kayu. Tapi teknologi “marble bending” milik Peter memecah semua tembok itu. Marmer dilenturkan perlahan, ditipiskan sampai hanya 1–2 milimeter, dilaminasi, dirancang ulang agar bisa memantulkan suara.
Prototipe awal masih seberat 5–7 kilogram. Terlalu berat untuk pemain gitar biasa. Tapi itu baru awal. Gitar kolaboratif ini sedang dikembangkan agar makin tipis, makin ringan. Bagian belakang tetap dari batu, tapi bagian depan—yang berfungsi sebagai resonator utama—akan dibuat dari kayu lunak. Perpaduan ini diyakini menghasilkan suara unik, kuat, dan tetap nyaman dimainkan.
Evelyn, yang jadi pengetes utama, mengangguk saat memetik senar. “Saya bisa mendengar warnanya. Suara gitar ini punya karakter. Bukan hanya beda, tapi juga dalam,” tuturnya, matanya berbinar. Ia mengaku tidak hanya bermain, tapi juga ikut menyempurnakan tonalitas gitar marmer tersebut.
Tiga gitar sudah dibuat. Salah satunya telah dibeli oleh kolektor asal Italia seharga US$10.000. Yang lain tersimpan di showroom Jakarta dan MM Galleri Juanda. Harganya bukan cuma soal material. Ia mewakili ide, ketekunan, dan keajaiban dalam bentuk paling nyata.
Lemurian Blue, granit asal Madagaskar, dipilih bukan tanpa alasan. Warnanya eksotis. Kekuatan lenturnya bisa mencapai 100 kg/cm². Tapi Peter menegaskan, bukan berarti marmer lokal tak bisa. “Kami pilih Lemurian untuk debut ini. Tapi Indonesia punya banyak batu bagus. Itu PR kita ke depan,” tegasnya.
Proyek ini, kata Peter, adalah pernyataan: bahwa kreativitas Indonesia tak punya batas. Bahwa batu bukan sekadar penutup dinding atau lantai. Ia bisa bernyanyi, jika disentuh dengan cinta dan ilmu.
“Batu pun bisa bernyanyi,” ulang Peter, seolah tak percaya ia telah mewujudkan mimpi gilanya. Tapi nyata. Suaranya telah didengar di Italia. Dan kelak, dunia akan mendengarnya lebih kencang.
Gitar marmer ini bukan cuma alat musik. Ia adalah puisi yang dipahat. Nada yang dibentuk dari kekerasan dan keindahan. Ia adalah simbol baru bahwa Indonesia tak sekadar mengikuti tren dunia—kita bisa menciptakannya.***





