Ledakan petasan kembali memakan korban jiwa saat Ramadan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini tak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga risiko serius jika abai terhadap aturan dan keselamatan.
Ledakan bahan petasan terjadi di beberapa daerah dalam dua-tiga pekan terakhir. Peristiwa yang muncul secara periodik itu tak hanya menimbulkan kerusakan, tetapi juga menimbulkan korban, baik luka maupun tewas.
Setiap kali memasuki bulan puasa, pembuatan petasan kembali marak. Biasanya, petasan-petasan itu dipakai untuk menambah kemeriahan hari raya Idul Fitri. Di beberapa daerah, aktivitas itu pun membawa dampak tidak diinginkan.
Terbaru, seorang pelajar SMP di Ponorogo harus meregang nyawa saat asyik meracik petasan.
Petasan telah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah di Jawa Timur, dentuman petasan masih sering menggema saat Idul Fitri tiba. Mercon berukuran cukup besar itu dibunyikan pada malam hari sehingga cacahan kertas pembungkusnya menghiasi aspal jalanan.
Jejak Sejarah dari China
Mengutip laman Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta, sejarah petasan berawal dari China. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak tidak sengaja mencampurkan tiga bahan bubuk hitam, yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang, dan arang kayu. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.
Jika ketiga bahan itu dimasukkan ke sepotong bambu dilengkapi sumbu dan dibakar, bambu itu akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan yang dipercaya bisa mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan kemudian dipakai untuk kemeriahan acara pernikahan, selebrasi kemenangan perang, hingga acara keagamaan.
Pada zaman Dinasti Song, berdiri sebuah pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar pembuatan kembang api. Tradisi petasan pun kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, tradisi petasan dibawa oleh orang-orang China.
Tradisi dan Tantangan Keselamatan
Terkait petasan yang selalu muncul setiap tahun saat bulan puasa, sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winarjo, menilai petasan atau mercon merupakan salah satu tradisi ekspresi atau selebrasi kegembiraan dan kesyukuran yang telah mengental dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

