Walikota Seoul Menangis
Sementara itu, dalam konferensi pers terpisah, Wali Kota Seoul Oh Se-hoon sampai menangis ketika mengucapkan permintaan maafnya. “Ketika saya mencoba menghibur seseorang yang anak perempuannya menjadi korban dan dirawat di National Medical Center kemarin, mereka mengatakan bahwa anak perempuan mereka akan selamat, dan mereka percaya begitu,” kata Oh, dikutip Associated Press. “Tetapi, tak lama dari itu saya mendengar dia (anak perempuan itu) meninggal pagi ini. Saya minta maaf karena permintaan maaf saya datang terlambat,” papar Oh, dengan suara bergetar dan tetesan air mengalir dari matanya.
Hingga kini, pihak berwenang belum bisa menyimpulkan penyebab tragedi paling mematikan di Korsel sejak 2014 lalu itu. Mereka masih melakukan penyelidikan.
Berbagai spekulasi soal penyebab kerumunan yang berubah menjadi tragedi maut itu terus bermunculan di kalangan publik. Namun, sampai saat ini, sebagian besar publik yakin bahwa tragedi Itaewon murni kelalaian pengamanan dari pihak berwenang.
Menurut para pengunjung dan korban selamat, pihak berwenang tampak minim pengawasan di Sabtu malam tersebut. Hanya ada sekitar 137 petugas kepolisian yang disebut bertugas di kawasan Itaewon. Padahal, sepekan sebelum perayaan Halloween berlangsung, tiket hotel dan tiket pesta sudah terjual habis. Seharusnya pihak berwenang dinilai sudah memprediksi bahwa keramaian yang tidak biasa akan terjadi di puncak perayaan Halloween tersebut.
Sekitar hampir 100 ribu orang “menyerbu” kawasan Itaewon, yang terdiri dari jalanan gang-gang kecil selebar 3,2-4 meter itu pada Sabtu malam.
Uliette Kayyem, pakar manajemen bencana dan analis keamanan nasional CNN, mengatakan kepadatan ibu kota mungkin juga berperan dalam tragedi Itaewon. “Orang-orang di Seoul sudah terbiasa berada di tempat yang padat, mungkin saja mereka tidak terlalu waspada dengan jalan yang penuh sesak itu,” katanya. “Kepanikan selalu menjadi faktor, dan ada bahaya terlalu terbiasa berada di tempat ramai.”
Menurut Kayyem, sulit untuk menentukan apa yang mungkin memicu tragedi itu. Namun, ia mengatakan bahwa, “Pihak berwenang seharusnya sudah mengantisipasi kemungkinan kerumunan lebih banyak akan terjadi sebelum Sabtu malam”.
“Untuk festival Halloween kali ini, karena diharapkan banyak orang akan berkumpul di Itaewon, saya mengerti bahwa festival ini disiapkan dengan menempatkan lebih banyak pasukan polisi dari pada tahun-tahun sebelumnya,” kata Oh, dikutip CNN.
“Tetapi memang saat ini tidak ada manual persiapan terpisah untuk situasi seperti itu di mana tidak ada penyelenggara dan diharapkan ada kerumunan orang.”
Selain itu, polisi telah dikerahkan bukan untuk pengendalian massa – tetapi untuk pencegahan kejahatan dan untuk mencegah “berbagai kegiatan ilegal.”
Kim Seong-ho, direktur divisi manajemen bencana dan keselamatan di Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan juga mengatakan mereka tidak memiliki pedoman atau manual untuk “situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya”—seperti tragedi Itaewon ini.
Otoritas Korsel pun mengakui kelemahan antisipasi tersebut, hingga Kepala Kepolisian meminta maaf hingga membungkuk di hadapan publik sebagai bentuk pertanggungjawaban.(CNN/AP/CNBC/sa)





