Kedai Kopi Kian Menjamur, Begini Awal Kisahnya 

Kopi untuk warung ini disuplai oleh seorang wanita pedagang lokal dan diolah secara sederhana. Bertahun-tahun setelahnya, warung-warung kopi bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.

Dikutip dari situs NOW! Jakarta, Toffin—sebuah perusahaan penyedia produk dan jasa untuk industri hotel, restoran, dan kafe di Indonesia—membagi perkembangan tren industri kopi di Indonesia ke dalam empat gelombang. Pembagian didasarkan pada momentum masuknya kedai-kedai kopi fenomenal ke dalam industri kopi Indonesia.

Gelombang pertama berlangsung pada periode 1980-1990-an. Pada fase ini, warung-warung kopi tradisional menjual kopi instan dari berbagai merek, seperti Kapal Api dan ABC. Sementara itu, beberapa kafe modern, seperti Dunkin’ Donuts dan Excelso, menyediakan kopi dalam bentuk siap minum.

Bacaan Lainnya

Gelombang kedua dimulai dari tahun 2001. Ditandai masuknya kedai kopi waralaba internasional, seperti Starbucks, yang menjadi awal munculnya konsep coffee shop di Indonesia. Berkat kedai-kedai kopi ini, masyarakat Indonesia mulai mengenal ragam jenis minuman kopi.

Gelombang ketiga bermula dari tahun 2010. Pada tahap ini, para pencinta kopi yang mengapresiasi perjalanan secangkir kopi yang mereka minum mulai bermunculan. Fenomena tersebut memunculkan istilah-istilah semacam single origin dan specialty coffee. Artisan coffee shop, seperti Tanamera, mulai muncul pada gelombang ini.

Gelombang keempat dimulai dari tahun 2016. Ditandai munculnya coffee shop dengan konsep coffee-to-go, yaitu menjual kopi siap minum yang diracik langsung di tempat untuk dibawa pulang. Tuku, Kopi Kenangan, Janji Jiwa, dan Fore adalah perintis kedai kopi dengan konsep seperti ini.

Pos terkait