Mayoritas responden, menurut laporan Jakpat, mengaku bakal mengeluarkan dana mereka untuk diberikan kepada orang lain, baik melalui zakat, infak, maupun sedekah. Hal ini diklaim oleh 84 persen responden.
Sementara itu, 77 persen responden tetap akan mengalokasikan dananya untuk kegiatan buka puasa bersama atau bukber. Sedangkan 39 persen responden mengaku mengutamakan alokasi dana mereka untuk mudik dan berlibur bersama keluarga.
“Sumber dana terbesar untuk pengeluaran Ramadhan 2024 adalah gaji. Namun ada pula responden yang mengandalkan tabungan dan THR untuk pengeluaran di bulan suci,” tambah Jakpat dalam laporan surveinya.
Jaga keuangan, waspada ancaman ekonomi global
Sementara itu, Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono—sebagaimana dilansir Kontan—mengingatkan agar masyarakat menjaga keuangannya, Menurutnya, inflasi harus terus dipantau. Sebab, apabila inflasi terus naik, maka daya beli akan turun dan masyarakat hanya terfokus pada belanja kebutuhan pokok.
“Banyak PHK, karena pelemahan global ini dampaknya ke tenaga kerja beberapa sektor cukup besar. Kalau ini terjadi, maka akan menjadi tekanan khusus bagi daya beli masyarakat,” kata Yudo, sebagaimana dikutip dari Kontan.
Meskipun demikian, menurut Yudo, daya beli masyarakat akan diyakini baik pada Ramadhan 2024.
“Puncak konsumsi akan terjadi di kuartal II-2024 karena ada Lebaran. Jadi, kemungkinan puncaknya di kuatral II-2024 orang berbelanja,” pungkas Yudho.◼︎





