KBBI Ketambahan 3.259 Entri Baru, dari “Adik-adikan” sampai “Kapitil” Kini Resmi Masuk Kamus

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Foto:Dok UICI
KBBI menambah 3.259 entri baru pada Oktober 2025, merekam bahasa gaul hingga istilah teknologi.

Bahasa Indonesia terus bergerak, tumbuh, dan beradaptasi mengikuti zaman. Buktinya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kembali “bertambah gemuk”. Dalam pemutakhiran Oktober 2025, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menambahkan 3.259 entri baru, sehingga total kosakata dalam KBBI kini mencapai 210.595 entri.

Pemutakhiran ini diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Bahasa sebagai bagian dari agenda rutin pembaruan KBBI yang dilakukan dua kali setahun — setiap April dan Oktober.

Artinya, istilah yang dulu hanya hidup di tongkrongan, media sosial, atau percakapan sehari-hari, kini resmi punya “KTP” di kamus nasional.

KBBI Bukan Polisi Bahasa, Tapi Pencatat Zaman

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa KBBI tidak hanya bersifat preskriptif (mengatur boleh–tidak boleh), tetapi juga deskriptif, yakni mencatat bagaimana bahasa benar-benar digunakan masyarakat. “KBBI adalah kamus besar yang ‘kebesarannya’ ditunjukkan oleh keluasan cakupan kosakata yang terhimpun dari aspek rentang waktu, bidang, dan ragam penggunaan,” ujar Hafidz dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 9 Januari 2026.

Karena itu, KBBI memberi label pada kata-kata tertentu. Misalnya:

  • cak (cakapan) untuk ragam informal,

  • kas (kasar) untuk kata umpatan,

  • serta rujuk silang untuk mengarahkan ke bentuk baku.

Tujuannya bukan membenarkan semua kata, melainkan memberi informasi konteks penggunaannya agar penutur tahu kapan sebuah kata pantas dipakai — dan kapan sebaiknya tidak.

Dari Teknologi sampai Bahasa Gaul

Sejumlah entri baru mencerminkan perubahan zaman dan kebiasaan masyarakat. Di antaranya:

  • Bidang digital: lokapasar (marketplace), pelantang (microphone), gim (game)

  • Bahasa santai: mager, rebahan, hingga omon-omon (sekadar bicara)

  • Kesehatan: isoman (isolasi mandiri), kesehatan mental

Perubahan gaya hidup, teknologi, hingga kesadaran sosial ikut terekam dalam kosakata yang masuk kamus.

Dari Usulan Publik ke Entri Resmi

Menariknya, KBBI kini sangat partisipatif. Hingga saat ini:

  • KBBI Daring telah menerima 255.629 usulan dari masyarakat,

  • Sebanyak 181.220 usulan (sekitar 70,89 persen) sudah disunting.

Setiap kata melewati proses berlapis: disunting editor, ditelaah redaktur, lalu divalidasi sebelum resmi menjadi entri.

Sebuah kata bisa masuk KBBI jika memenuhi sejumlah kriteria, antara lain:

  • Unik (tidak ada padanannya),

  • Eufonik (enak diucapkan),

  • Sesuai kaidah bahasa Indonesia,

  • Tidak berkonotasi negatif,

  • Digunakan luas dan berulang oleh masyarakat.

Kamus Hidup, Bukan Museum Kata

Dengan sistem pembaruan berkala, KBBI kini bukan lagi buku tebal yang terasa jauh dari keseharian, melainkan cermin bahasa masyarakatnya sendiri.

Ia tidak hanya menetapkan standar, tapi juga merekam perubahan — dari cara orang berbicara, berpikir, bekerja, hingga bercanda.

Bahasa Indonesia, lewat KBBI, menunjukkan dirinya sebagai makhluk hidup: tumbuh, menyesuaikan diri, dan terus bergerak bersama penuturnya.

Berikut adalah 10 kosakata terbaru beserta artinya yang diambil dari daftar pemutakhiran tersebut:

  1. Kapitil: Huruf kecil (digunakan sebagai lawan kata dari huruf kapital).

  2. Galgah: Sensasi segar atau lega pada kerongkongan karena sudah minum (sering dianggap sebagai lawan kata haus/dahaga dalam konteks sensasi).

  3. Palum: Keadaan sudah puas minum atau sudah tidak haus lagi (lawan kata dahaga/haus).

  4. Petrikor: Aroma alami yang khas dan menyegarkan yang muncul ketika hujan jatuh ke permukaan tanah yang kering.

  5. Bucin: Singkatan dari “budak cinta”; sebutan untuk orang yang terlalu larut dalam cinta hingga rela melakukan apa saja demi pasangannya (ragam cakapan).

  6. FYI: Singkatan dari for your information; sebagai informasi (ragam cakapan/istilah internet).

  7. Hadeh: Kata seru untuk menyatakan rasa lelah, kesal, atau pasrah (ragam cakapan).

  8. Hiks: Kata seru yang menirukan bunyi orang menangis atau terisak (ragam cakapan).

  9. Adik-adikan: Seseorang yang dianggap atau diperlakukan seperti adik sendiri, tetapi tidak memiliki hubungan darah.

  10. Abalu: Sejenis pohon atau kayu (istilah bidang biologi/kehutanan).

Pemutakhiran ini dilakukan secara berkala setiap enam bulan (April dan Oktober) untuk merekam dinamika penggunaan bahasa Indonesia, baik bahasa formal maupun ragam percakapan sehari-hari. Anda dapat melihat daftar lengkapnya langsung di laman KBBI Pemutakhiran. ***