Kasus influenza A(H3N2) subclade K meningkat. Kemenkes mencatat 62 temuan hingga akhir Desember.
Perkembangan influenza A(H3N2) menunjukkan tren peningkatan secara global, seiring ditemukannya varian baru subclade K di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Data surveilans nasional mencatat kenaikan kasus hingga akhir 2025.
Berdasarkan pemeriksaan dari 88 sentinel ILI-SARI di seluruh Indonesia, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K di delapan provinsi, termasuk Jawa Timur. Seluruh sampel diuji di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3).
Subclade K Terpantau Meluas di Asia
Varian subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and PreventionAmerika Serikat pada Agustus 2025. Sejak itu, varian ini dilaporkan muncul di sejumlah negara Asia dan menjadi bagian dari pemantauan rutin jejaring influenza global.
Meski jumlah kasus bertambah, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa peningkatan tersebut belum diikuti lonjakan keparahan klinis.
“Berdasarkan penilaian World Health Organization dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejalanya umumnya sama dengan flu musiman,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, Selasa (6/1/2026).
Kelompok Rentan Tetap Berisiko
Kemenkes menyebut, meskipun sebagian besar kasus bersifat ringan hingga sedang, tingkat keparahan dapat lebih dirasakan oleh kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Di sisi regional, tren kasus influenza di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan dilaporkan mulai menurun dalam dua bulan terakhir. Namun, otoritas kesehatan menilai kewaspadaan tetap diperlukan karena mobilitas lintas negara masih tinggi.
Imbauan Kewaspadaan Masyarakat
Seiring peningkatan temuan kasus, Kemenkes mengimbau masyarakat kembali menerapkan protokol kesehatan dasar. Penggunaan masker dianjurkan bagi warga yang mengalami batuk atau pilek, terutama di ruang publik.
Vaksinasi influenza juga disarankan, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi, untuk menekan kemungkinan gejala berat. Selain itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik dalam tiga hari atau disertai sesak napas.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus dan memperkuat surveilans untuk memastikan peningkatan ini tetap berada dalam kendali sistem kesehatan nasional.***





