Jejak Terakhir ATR di Lereng Bulusaraung

Jejak penerbangan itu berakhir di lereng karst Bantimurung. Di antara kabut dan tebing, pencarian belum selesai—dan langit masih menyimpan jawabannya.
Di Luar Jalur Pendekatan

Sejumlah pengamat mulai membaca ulang kemungkinan yang terjadi di udara. Pengamat penerbangan Agung Sasongko Jati menduga pesawat tidak berada pada jalur pendekatan pendaratan sebagaimana lazimnya. Kondisi ini, menurutnya, bisa terjadi bila pesawat beroperasi dalam mode penerbangan yang berbeda dari prosedur normal pendaratan.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie menyoroti status darurat sebelum insiden. Ia menyebut pesawat berada pada fase Detresfa (Distress Phase)—tingkat darurat tertinggi dalam penerbangan—yang menandakan ancaman serius dan segera terhadap pesawat, awak, dan penumpang. Status ini berada di atas INCERFA (Uncertainty Phase) dan ALERFA (Alert Phase), serta menuntut respons penyelamatan tanpa penundaan. Penjelasan tersebut ia sampaikan melalui akun X pribadinya, Ahad (18/1/2026).

Kru dan Penumpang dalam Manifest

Direktur Utama PT IAT, Tri Adi Wibowo, menyatakan terdapat tujuh kru yang bertugas dalam penerbangan tersebut. Nama-nama kru yang disebutkan antara lain Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita, serta satu nama lain yang belum disebutkan. Terdapat perbedaan antara keterangan ini dengan Passenger Manifest, di mana hanya Andi Dahananto, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita yang tercatat sama.

Bacaan Lainnya

Manifest juga mencantumkan nama kru lain yang tidak disebutkan sebelumnya, yakni Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, dan Junaidi.

Di antara penumpang, tercatat tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tengah menjalankan tugas pengawasan udara Direktorat Jenderal PSDKP. Mereka adalah Ferry Irrawan (Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Nauval (Operator Foto Udara).

Langit yang Menyisakan Tanda Tanya

Di Bantimurung, karst menjulang seperti dinding waktu—indah, sunyi, dan menyimpan rahasia. Operasi SAR masih bergerak, menyusuri celah-celah alam untuk merangkai kembali menit-menit terakhir di udara. Di tengah angin yang kencang dan medan yang keras, satu hal mengemuka: pencarian ini bukan hanya soal menemukan puing, melainkan menjawab pertanyaan yang tertinggal di langit awal 2026.***

Pos terkait