Inspirasi ‘Beyond Forgiving’ Mr. Letlapa Mphahlele: Lepaskan Dendam untuk Temukan Kedamaian

Peserta Fellowship Weekend berfoto bersama Mr. Letlapa Mphahlele, salah satu tokoh utama film Beyond Forgiving. (Initiatives of Change (IofC) Indonesia/ Miftahul Huda).
Initiatives of Change (IofC) Indonesia—organisasi global yang punya misi membangun kepercayaan di seluruh dunia—menggelar acara Fellowship Weekend with Mr. Letlapa Mphahlele untuk memperkuat nilai-nilai perdamaian dan rekonsiliasi. Pelajaran penting dari acara ini adalah: cara untuk menemukan kedamaian adalah dengan melepaskan dendam.

Acara ini berlangsung selama dua hari, 5-6 Februari 2025, di Aula MTSN 1 Kota Tangerang Selatan. Dihadiri oleh berbagai kalangan, seperti mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, santri Pesantren Jagat Arsy, anggota dan koordinator IofC Indonesia, Miftahul Huda.

Ada yang spesial dari kegiatan para pemuda penggerak perubahan ini, yakni diskusi film dokumenter Beyond Forgiving bersama Mr. Letlapa Mphahlele—salah satu tokoh utama film.

Beyond Forgiving menceritakan kisah nyata perjalanan transformasi Letlapa Mphahlele, mantan pemimpin militer Azanian People’s Liberation Army (APLA) di Afrika Selatan.

Bacaan Lainnya

Letlapa, yang pernah memerintahkan penyerangan yang menewaskan Gillian Fourie pada tahun 1993, kini menjadi sosok yang aktif dalam proses rekonsiliasi dan perdamaian.

Film ini tak hanya berkisah tentang kelamnya konflik politik di Afrika Selatan, tetapi juga menunjukkan bagaimana dialog dan pengampunan dapat menyembuhkan luka yang dalam.

Letlapa, yang dulunya terlibat dalam kekerasan, kini menjadi simbol rekonsiliasi. Hubungannya dengan Ginn Fourie, ibu dari Gillian Fourie, menjadi bukti bahwa perdamaian dapat tercipta meski di tengah luka yang mendalam.

“Memaafkan dan pengampunan bukanlah suatu peristiwa. Keduanya adalah proses yang berkelanjutan. Ini semua tentang konsistensi dalam memaafkan setiap saat,” ujar Letlapa dalam satu sesi diskusi.

“Dan dari sudut pandang saya,” lanjiutnya, “kuncinya adalah jangan pernah membiarkan musuhmu menentukan standar moralmu. Hanya karena mereka merendahkanmu, bukan berarti kamu harus melakukan hal yang sama.”

Para peserta tak hanya menonton film, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan interaktif, seperti bermain kartu Friends for Life, berdialog tentang trauma masa lalu, dan berbagi pengalaman hidup.

Pada kesempatan ini, salah satu anggota IofC Indonesia yang enggan menyebutkan nama, menekankan pentingnya melepaskan dramatisasi memori yang seringkali membuat seseorang terjebak dalam penderitaan.

“Masalahnya, kadang kita sering banget meromantisasi memori. Maksudnya adalah, ketika misal kena masalah sama orang atau apa, kesalahan itu kita ingat terus, bahkan sampai mensimulasikan hal tersebut terjadi berulang-ulang. Itu yangbikin kita menderita,” katanya.

“Peristiwanya sudah selesai, sudah enggak ada, tapi memori tadi yang kita romantisasi terus berulang-ulang padahal itu kan dari sudut pandang kita sendiri,” imbuhnya.

Di tengah masyarakat Indonesia yang seringkali menyimpan luka emosional secara turun-temurun, acara ini menjadi ruang untuk belajar melepaskan dendam dan menemukan kedamaian.

Konsep Beyond Forgiving mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah hal yang instan, melainkan proses yang membutuhkan konsistensi dan keberanian.

“Kita tidak bisa hidup tenang dengan adanya bayang-bayang dendam kepada orang tertentu. Beyond Forgiving adalah sesuatu yang hilang, terutama di masyarakat Indonesia dengan sifat turun-temurun ‘ga enakan’ yang seringkali menyebabkan terpendamnya luka emosional seseorang, berujung pada stres dan lainnya,” jelas Miftahul Huda, Koordinator IofC Indonesia.

Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang belajar, tetapi juga ruang untuk membangun jaringan dan kolaborasi lintas-generasi. Peserta diajak merefleksikan pengalaman hidup mereka melalui sesi Life Experience Sharing dan permainan interaktif yang dirancang untuk mempererat hubungan antar sesama. ***

Pos terkait