Blunder Si Anak Emas

Dan, faktanya, kemerdekaan Palestina belum pernah menjadi kenyatan hingga saat ini.

Komitmen Sukarno diteruskan oleh Soeharto dengan Orde Barunya, hingga presiden-presiden berikutnya di era Reformasi: Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Komitmen Indonesia untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina pun merupakan janji politik Jokowi di masa kampanye dulu. Dan komitmen terhadap janji politik adalah simbol kehormatan. Begitu terpilih, Presiden Jokowi berkali-kali menegaskan sikap tersebut. Salah satunya, misalnya, diucapkan Jokowi dalam keterangan pers bersama Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad I.M. Shtayyeh di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 24 Oktober 2022. “Sekali lagi saya tegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina,” kata Presiden, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya
(Tangkapan layar dari laman Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Sedangkan ET, sebagaimana sudah rahasia umum, merupakan salah satu orang kepercayaan Presiden—“anak emas” yang diberi banyak kesempatan, mulai dari dipercayai salah satu pos paling strategis bernama Kementerian BUMN, hingga dibiarkan bebas membangun panggung politik di segala lini.

Lalu, haruskah kepercayaan Presiden—simbol negara itu—dibayar kecerobohan, dengan ET tidak berusaha melakukan upaya diplomasi terkait kepesertaan Timnas Israel di Piala Dunia U-20? Menerima timnas sepakbola ke dalam wilayah negara sama dengan mengakui kedaulatan negara asal timnas tersebut. Ini sama juga dengan membangun hubungan diplomasi. Sedangkan mengakui negara Israel bukanlah komitmen Indonesia.

Haruskah komitmen tersebut dilanggar demi sepakbola?

Dari sudut pandang federasi sepakbola internasional a.k.a FIFA, Israel memang berhak ikut serta dalam gelaran ini. Dan Indonesia, yang juga anggota FIFA, juga berhak menjadi tuan rumah gelaran Piala Dunia U-20. Namun, Indonesia juga memiliki komitmen politik-historis yang menjadi jubah kehormatan negara. Dan FIFA tak punya hak untuk memaksa Indonesia merobek-robek jubahnya sendiri.

Pos terkait