Arkeolog Universitas Indonesia Ali Akbar memprediksi penelitian dan eskavasi ulang situs megalitikum Gunung Padang, sebagaimana yang bakal dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan, butuh waktu satu tahun.
Untuk tahap awal kelanjutan penelitian, kata Ali, akan ada pertemuan dari berbagai unsur dalam waktu dekat. Semua peneliti yang pro dan kontra akan duduk bersama.
“Bila nanti disepakati, langsung gerak. Awalan diskusi lalu ada pembersihan sisi kiri dan kanan Gunung Padang biar terlihat (piramidanya),” kata Ali dalam sebuah wawancara, Kamis, 9 Januari 2025.
Menurut Ali, pembahasan akan bertahap. Riset tak sekadar berbentuk tulisan, tetapi juga berlanjut ke ekskavasi. Tujuannya untuk mengungkap misteri yang selama ini dilekatkan dengan Gunung Padang.
Semua unsur akan dilibatkan dalam penelitian ini, baik pemerintah daerah, Kementerian Kebudayaan, hingga TNI. Sebab, kata Ali, sudah ada visi ingin membuktikan bahwa Gunung Padang adalah situs megalitikum tertua di dunia.
“Riset di samping bukit-bukit itu kita perdalam ke dalam tanah ke dalam 2 meter. Nah, di kedalaman 4 meter itu ketemu lapisan budaya yang lebih tua, yang usianya 5.900 SM,” jelasnya.
“Itu yang lebih tua dari Piramida Mesir, bahkan dari Ziggurat di Mesopotamia. Bangunan tertua di Mesopotamia di sekitar Irak sekarang seperti itu,” imbuhnya.
Terhenti Ketika Penggalian Mencapai 10 Meter
Penelitian Gunung Padang sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2012, di zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dimotori oleh Ali Akbar. Namun riset tersebut berhenti pada 2014.
Menurut Ali Akbar, pada waktu itu sudah ekskavasi atau penggalian sudah dilakukan hingga kedalaman 10 meter. Dalam prosesnya, ketika kedalaman mencapai 4 meter, ditemukan batuan yang strukturnya terlihat seperti ada campur tangan manusia.
Proses penggalian dijeda lagi sampai lapisan tanah sedalam 9 meter. “Kemudian ada lagi batuan di kedalaman 10 meter,” kata Ali
Ali mengklaim jika pada waktu itu tidak ada penelitian dengan ekskavasi sedalam 10 meter. “Proses eskavasi terhenti karena peralatan yang belum sesignifikan sekarang,” tutur dia.
Penelitian dan ekskavasi pun berhenti selama 10 tahun. Namun di sisi lain, kata Ali, tetap ada penelitian di Gunung Padang, dari institusi bahkan negara lain.
Pada tahun 2024, ketika Fadli Zon dilantik sebagai Menteri Kebudayaan, menurut Ali, ada angin segar terkait penelitian Gunung Padang. Ali menilai Fadli Zon sangat concern dengan isu seperti Gunung Padang.
“Saya langsung dipanggil setelah pelantikan beliau dan membahas, ‘yuk risetnya lanjut lagi’,” kata dia.***



