Tim Ekspedisi Patriot ITS merancang mesin pengering gabah untuk petani di Manokwari Selatan, memangkas masa penjemuran dari dua pekan menjadi hanya sepuluh jam.
Ketergantungan pada cuaca menjadi kendala utama petani transmigran di Distrik Oransbari, Manokwari Selatan. Tanpa sarana memadai, butiran gabah rentan rusak akibat penjemuran tradisional yang bisa memakan waktu hingga dua pekan saat mendung.
Menjawab kendala tersebut, Tim Ekspedisi Patriot 12 Institut Teknologi Sepuluh Nopember merancang mesin pengering gabah tepat guna guna menjaga mutu beras dan meningkatkan efisiensi pascapanen di kawasan timur Indonesia bersama ITS.
Pangkas Waktu Jemur dan Tekan Biaya
Ketua tim pengembang dari Departemen Teknik Elektro ITS, Joko Susila, menjelaskan mesin berukuran 3,5 x 4 meter ini mampu mengeringkan 1,4 ton gabah hanya dalam waktu 8 hingga 10 jam menggunakan sistem pembakaran biomassa berlapis.
“Dengan mesin, petani akan hemat biaya tenaga kerja dua hingga tiga orang dengan upah sekitar Rp150 ribu per hari,” kata Joko di Manokwari Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Alat ini dilengkapi sensor pengukur kelembapan digital guna memastikan kadar air gabah berada pada ambang standar sebelum masuk ke penggilingan, didukung bahan bakar sekam dan serbuk kayu gergaji lokal yang melimpah.
Putus Ketergantungan pada Tengkulak
Guna menjamin keberlanjutan, tim melatih 18 perwakilan kelompok tani dan menyerahkan pengelolaan mesin kepada BUMDes Margorukun sebagai penggerak ekosistem hilirisasi gabah menjadi tepung beras siap jual.
Langkah pemberdayaan ini dirancang khusus untuk melepaskan para petani lokal dari jerat utang tengkulak yang kerap memborong hasil panen raya dengan harga murah di bawah standar pasar. ***





