Operasi udara menargetkan asap yang terperangkap dekat permukaan. Pemerintah tetap melanjutkan pemadaman dan pendinginan, terutama pada lahan gambut.
Pemerintah menggunakan penyemaian es kering atau dry ice untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan. Operasi tersebut berjalan bersama pemadaman darat, pembasahan gambut, dan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengumumkan langkah itu pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pelaksanaannya melibatkan TNI, BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan BRIN.
Teknik tersebut digunakan terutama ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.
Membuka Lapisan Penahan Asap
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, lapisan inversi atmosfer dapat bertindak seperti penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap tertahan dekat permukaan.
Menurut BMKG, penyemaian es kering dari pesawat diarahkan untuk membantu mengubah kondisi atmosfer tersebut agar asap dapat bergerak naik.
“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer,” kata Seto, Selasa.
Keberhasilan operasi dievaluasi melalui peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel PM2,5. Keterangan BMKG belum merinci hasil pengukuran sebelum dan sesudah operasi.
Penguraian asap juga berbeda dari pemadaman sumber kebakaran. Penanganan api dan bara di lapangan tetap diperlukan.
Menyiagakan 61 Armada Udara
Kementerian Kehutanan menyatakan pemerintah menyiagakan 61 armada udara. Sebanyak 17 unit diperuntukkan bagi patroli dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 44 unit untuk pengeboman air.
Di darat, tim gabungan melakukan pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, serta penyisiran bara.
Penanganan lahan gambut dilanjutkan meskipun nyala di permukaan tidak lagi terlihat. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah tanah sehingga membutuhkan pendinginan lanjutan.
Pemantauan SiPongi hingga Senin, 19 Oktober, pukul 21.00 WIB mencatat 487 titik panas berkepercayaan tinggi secara nasional, turun dari 1.104 titik sehari sebelumnya.
Namun, titik panas merupakan indikasi anomali suhu dari satelit. Jumlahnya tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran ataupun luas lahan terbakar. Kemenhut juga menyatakan penurunan titik panas belum selalu diikuti pemulihan kualitas udara.
Pemadaman di Enam Provinsi Prioritas
BNPB melaporkan 454,25 hektare lahan telah berhasil dipadamkan dari target penanganan 1.024,33 hektare di enam provinsi prioritas hingga 19 Oktober.
Sebanyak 570,08 hektare lainnya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan. Angka itu merupakan cakupan target operasi yang dilaporkan BNPB, bukan keseluruhan luas karhutla nasional.
Enam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Api Arjuno Masih Merambat
Di Jawa Timur, BPBD melaporkan titik api Arjuno-Ringgit bergerak ke selatan menuju Singosari, Kabupaten Malang. Api juga merembet ke perkebunan warga di Petungombo, Kabupaten Pasuruan.
Dalam laporan Selasa malam, jarak api dari permukiman diperkirakan dua hingga tiga kilometer. Aktivitas warga disebut belum terdampak langsung, sementara petugas terus memantau dan membatasi perambatan.***





