BMKG memastikan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau tidak lagi terdeteksi di wilayah Indonesia, termasuk langit Jabodetabek, sejak Kamis dini hari. Gelombang dan arus Selat Sunda juga dipastikan aman.
Pelaksana harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ida Pramuwardani menyatakan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tak lagi terdeteksi di wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemantauan satelit, abu vulkanik itu telah bergerak menjauh ke barat Samudra Hindia sejak Kamis, 10 September 2026, pukul 01.00 WIB.
“Sebaran debu vulkaniknya sudah tidak lagi terdeteksi dari citra satelit,” kata Ida dalam diskusi Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Kondisi Selat Sunda
Selain hilangnya sebaran abu, Ida memastikan kondisi perairan di sekitar gunung aman. Ia mencatat ketinggian gelombang dan arus laut di Selat Sunda tidak mengalami peningkatan berarti.
Ihwal kebersihan udara, ia memprediksi ketiadaan partikel vulkanik bila dilakukan pengujian lapangan. “Kondisinya bersih untuk sebaran debu vulkanik dan kalau dilakukan paper test pastinya negatif,” ujar Ida.
Menjauh ke Samudra Hindia
Sebelumnya, pergerakan abu vulkanik terpantau dominan mengarah ke barat samudra. Saat ini, material vulkanik tersebut sudah berada di tingkat ketinggian yang cukup tinggi di atas perairan lepas.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar. “Untuk wilayah di sekitar Indonesia, baik itu di perairan ataupun di daratannya, saat ini tidak terpantau adanya sebaran debu vulkanik,” tutur Ida. ***





