TGB dan Gus Kautsar Bantah Tulis Buku Islam Ala Prabowo

Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.(Instagram ppih.id)

Dua tokoh agama menegaskan tidak ikut menyumbang naskah dalam karya yang membahas kepemimpinan Presiden RI. Pencantuman nama mereka diduga tanpa izin.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. atau Tuan Guru Bajang (TGB) membantah telah mengirimkan tulisan untuk buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Bantahan ini merespons pencantuman namanya sebagai salah satu kontributor ulasan di dalam karya tersebut.

“Saya tidak pernah kirim tulisan,” ujar tokoh agama dan intelektual muslim tersebut saat menanggapi pertanyaan warganet di media sosial Instagram, Ahad (6/9/2026).

Selain itu, bantahan serupa diserukan oleh istri pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, K.H. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar. Ning Jazilah Annahdliyah, istri Gus Kautsar, menyatakan nama suaminya turut dicatut.

Bacaan Lainnya

Ning Jazil menegaskan bahwa Gus Kautsar tidak pernah membuat tulisan untuk buku tersebut. Ia juga menekankan pihak keluarga tidak pernah memberikan izin penggunaan nama suaminya untuk dicetak sebagai pengulas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Inisiasi Tokoh Nasional

Ihwal penyusunan buku setebal 346 halaman ini, prosesnya diinisiasi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Anwar Iskandar. Adapun penulis utama yang tercantum adalah Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.

Buku terbitan Atmosphere Publishing House itu resmi diluncurkan pada 26 Agustus 2025 di Jakarta. Peluncuran dilakukan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan dipimpin langsung oleh Anwar Iskandar bersama Ketua Baznas Prof. Dr. K.H. Noor Achmad.

Hingga berita ini ditulis, pihak penerbit maupun inisiator belum memberikan tanggapan resmi mengenai dugaan pencatutan nama sejumlah tokoh ulama.

Sebelumnya, Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia, Gus Maftuh, sempat membela penerbitan karya itu saat warganet menyoroti frasa pada judul. “Buku itu tidak bermaksud menciptakan Islam baru, melainkan menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam kepemimpinan,” kata Gus Maftuh.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan