Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan suhu Bumi dipastikan melewati ambang batas 1,5 derajat Celcius, diperparah oleh ancaman fenomena iklim El Nino terkuat yang akan berlangsung hingga 2027.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa dunia saat ini berada di zona bahaya cuaca ekstrem. Ancaman ini dipicu oleh peningkatan suhu global dan fenomena iklim El Nino yang terus menguat menuju rekor terkuatnya.
Guterres menyebutkan cuaca panas ekstrem, kebakaran hutan, dan banjir bandang belakangan ini merupakan peringatan atas krisis iklim masa depan. “Kita harus menekan lonjakan suhu di atas 1,5 derajat ini sesingkat dan sekecil mungkin,” kata Guterres, Rabu, 2 September 2026.
Peringatan tersebut sejalan dengan laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) bertajuk Limiting Overshoot. Laporan itu mengungkap kenaikan suhu global dipastikan melewati ambang batas 1,5 derajat Celcius yang sebelumnya disepakati dalam Perjanjian Paris.
Ihwal kondisi tersebut, UNEP kini berfokus pada strategi menekan durasi dan puncak suhu saat Bumi berada di atas angka kritis. Strategi ini mencakup pemangkasan emisi gas rumah kaca menuju target emisi nol bersih (net-zero) serta metode penghilangan karbon dioksida.
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengingatkan tak ada dampak positif bila suhu Bumi terus melampaui 1,5 derajat Celcius. “Saat inilah waktu yang tepat untuk melipatgandakan aksi iklim,” ujar Andersen.
Skenario paling optimistis memprediksi puncak kenaikan suhu tetap mencapai 1,8 derajat Celcius. Lonjakan ini berpotensi memicu titik krisis iklim (tipping point) yang tidak bisa dipulihkan, seperti kerusakan hutan Amazon dan ketidakstabilan lapisan es utama.
Ancaman El Nino Sangat Kuat
Selain krisis suhu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Kamis, 3 September 2026, memperingatkan ancaman El Nino tingkat sangat kuat. Fenomena yang masuk kategori tertinggi WMO ini diproyeksikan bakal berlangsung hingga Februari 2027.
Data WMO mencatat suhu bawah permukaan laut di beberapa titik Samudra Pasifik telah menembus 8 derajat Celcius di atas rata-rata. Anomali suhu ini diprediksi mengubah pola iklim global secara drastis antara September hingga November mendatang.
Perubahan iklim tersebut akan memicu kekeringan berkepanjangan di wilayah Indonesia, Australia, dan kawasan Amazon. Sektor esensial seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air terancam menghadapi gangguan gagal panen serta kelangkaan pasokan.
Kepala WMO Celeste Saulo menuturkan bahwa puncak pelepasan panas lautan ke atmosfer akan berdampak panjang dan berisiko merusak stabilitas ekonomi global. Otoritas manajemen bencana didesak untuk segera mengambil langkah mitigasi secepat mungkin.
“Kita sudah melihat gangguan dan kerusakan akibat kekeringan dan banjir, dan kita memperkirakan dampak ini akan meningkat seiring intensifikasi El Nino. Tidak ada waktu untuk disia-siakan dalam bersiap-siap,” kata Saulo.***





