Badan Geologi menduga dentuman di Jawa Barat berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau. BMKG menilai jaraknya terlalu jauh. PVMBG memastikan tubuh gunung saat ini belum berpotensi memicu tsunami.
Penyebab dentuman yang dilaporkan terdengar di Jawa Barat, Banten, dan Lampung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026, belum menghasilkan satu kesimpulan yang sama.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Sabtu sore menyatakan dentuman dan getaran diduga kuat berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika beberapa jam sebelumnya menyatakan dentuman di Bandung Raya tidak berkaitan dengan aktivitas gunung itu.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Rita Susilawati memastikan aktivitas Anak Krakatau saat ini belum dinilai berpotensi memicu tsunami.
Erupsi Lebih dari Lima Jam
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan erupsi berlangsung menerus sejak Jumat pukul 23.07 WIB hingga setidaknya Sabtu pukul 04.40 WIB. Aktivitas itu berasosiasi dengan semburan lava menyerupai air mancur lava.
“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” kata Lana.
Laporan PVMBG periode pukul 00.00–06.00 WIB mencatat satu gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau enam jam. CCTV pengamatan dilaporkan tidak berfungsi setelah terkena lontaran material.
Lana mengatakan suara dari erupsi dapat merambat jauh melalui atmosfer dalam bentuk gelombang tekanan berfrekuensi rendah. Laporan dentuman diterima dari Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung. Keterkaitan itu masih dinyatakan sebagai dugaan.
BMKG Belum Temukan Sumber
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menilai jarak Bandung dari Anak Krakatau terlalu jauh untuk langsung dikaitkan dengan dentuman.
“Kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,” kata Suaidi.
BMKG memeriksa data seismik, sesar, cuaca, petir, dan kondisi atmosfer. Tidak ditemukan rekaman gempa di Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun sesar aktif lain yang waktunya bertepatan. Citra satelit tidak menunjukkan aktivitas awan signifikan di Bandung pada periode itu.
BMKG menyebut fenomena itu dapat masuk kategori dentuman langit, tetapi penyebab spesifiknya belum dapat dipastikan.
Rita Susilawati mengatakan tubuh gunung yang tumbuh kembali setelah keruntuhan 22 Desember 2018 masih relatif kecil. “Untuk tsunami, hasil evaluasi kami, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi yang dapat memicu tsunami,” katanya.
Status gunung tetap Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Masyarakat diminta tidak memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Ancaman yang diwaspadai adalah aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu vulkanik.***





