Bupati Sidoarjo mengaku 31 dari 170 dapur MBG di wilayahnya belum mengantongi izin. Pengakuan itu baru meluncur setelah ratusan santri terkapar di delapan rumah sakit.
Angka korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo terus memanjat. Hingga Rabu siang, 2 September 2026, Dinas Kesehatan setempat mencatat 566 orang terdampak, dengan 88 di antaranya masih menjalani perawatan.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina menyebut 470 pasien sudah dipulangkan. Tak satu pun masuk kategori kritis. Pasien tersebar di sembilan rumah sakit, dengan RSUD RT Notopuro menampung beban terberat: 334 orang.
Semuanya bermula Senin siang, 1 September. Sekitar 440 porsi diantar ke Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, pukul sepuluh pagi. Menunya nasi putih, telur orak-arik, tumis jagung muda dan buncis, tempe bumbu Bali, serta potongan apel.
Makanan itu baru disantap menjelang siang hingga sore. Seorang santri mengeluh sayurnya terasa aneh dan masam. Menjelang magrib, muntah-muntah mulai merebak dan ambulans berdatangan.
Jeda Enam Jam yang Tak Terjaga
Rentang waktu antara pengantaran dan penyantapan itulah yang kini disorot penyidik. Sampel muntahan pasien dan sisa makanan sudah dikirim ke laboratorium, dan hasilnya baru bisa dibaca sekitar sepekan lagi. Dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin sementara dihentikan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menegaskan tak ada korban jiwa, sekaligus membantah dugaan bahwa pemicunya adalah makanan acara Maulid Nabi. Kabar soal santri meninggal yang beredar di media sosial sudah dipastikan hoaks.
Pengakuan yang Datang Terlambat
Yang paling menghentak justru meluncur dari mulut Bupati Sidoarjo Subandi saat menyidak dapur itu. “Total berdiri BGN yang ada di Sidoarjo 170. Yang masih belum ada izin, 31,” katanya.
Artinya, hampir satu dari lima dapur MBG di Sidoarjo memasak untuk anak-anak tanpa sertifikat laik higiene sanitasi. Angka itu tidak muncul lewat audit rutin, melainkan lewat ratusan santri yang lebih dulu terkapar. Subandi kini meminta BGN mengevaluasi seluruh 170 dapur.
Sidoarjo bukan kasus tunggal. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat 40.759 korban keracunan MBG sejak 2025, tersebar di 36 provinsi. Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026 saja bertambah 12.656 kasus.
Jawa memikul 61 persen beban nasional. Jawa Tengah menyumbang 34 persen, disusul Jawa Timur 18 persen, dan Jawa Barat 9 persen.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji membaca sebarannya sebagai peringatan keras terhadap sistem pengawasan program. BGN sendiri sudah mencopot 137 kepala SPPG, sementara mantan Kepala BGN Dadan Hindayana kini berstatus tersangka korupsi tata kelola MBG.
Hasil laboratorium memang belum keluar. Tapi satu hal sudah terang benderang sejak Senin sore: pengawasan baru bekerja setelah ambulans mengaum.***





