Guru Besar Teknik Informatika ITS Prof. Ir. Ary Mazharuddin Shiddiqi mengembangkan konsep continual learning pada kecerdasan buatan. Pendekatan ini memungkinkan sistem AI terus belajar dari data dan pengalaman baru tanpa melupakan pengetahuan lama.
Pesatnya perubahan teknologi dan ancaman siber menuntut sistem Artificial Intelligence (AI) tidak lagi bersifat statis. Guru Besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Ir. Ary Mazharuddin Shiddiqi, S.Kom., M.Comp.Sc., Ph.D. menggagas pengembangan AI adaptif melalui bidang continual learning.
Ary menjelaskan bahwa AI harus mampu belajar secara berkelanjutan dari data dan pengalaman baru. Menurutnya, sistem yang tidak beradaptasi akan cepat ketinggalan zaman.
“AI akan menjadi obsolete jika tidak beradaptasi,” terangnya, dikutip Selasa (7/7/2026).
Konsep continual learning ini mengadopsi cara manusia belajar seumur hidup. Dengan pendekatan tersebut, AI diharapkan bisa mempelajari pengetahuan baru tanpa melupakan yang lama. Namun, tantangan besar yang masih dihadapi adalah *catastrophic forgetting*, yaitu ketika model AI lupa pengetahuan lama setelah mempelajari hal baru.
Dalam penelitiannya, Ary mengembangkan Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems yang terdiri dari lima tahap: observe, learn, remember, adapt, dan act. Kerangka ini mendukung tiga arah utama, yaitu adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure.
Beberapa hasil risetnya antara lain FusionNet-FR untuk peramalan deret waktu, SPARC untuk penempatan sensor deteksi kontaminan air, serta DiLLeMa dan CloudX-Lab sebagai platform infrastruktur AI adaptif.
Ary menekankan pentingnya AI adaptif bagi Indonesia, mulai dari ketahanan siber hingga transformasi digital. Ia juga mengingatkan agar AI tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia.
“Saya berkomitmen untuk fokus pada riset continual learning agar bisa memberikan kebermanfaatan yang sebesar-besarnya untuk sivitas akademika ITS pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya.***





