Lembuswana: Tunggangan Raja Mulawarman, Penjaga Sungai Mahakam

KUTAI KERTANEGARA | SAMUDRA FAKTA—Lembuswana merupakan satwa dalam mitologi lambang Kerajaan Kutai Kartanegara. Hewan ini menjadi mitologi rakyat Kutai yang disucikan karena dipercaya sebagai tunggangan Mulawarman, Raja Kutai yang bertahta 1.500 tahun silam.

Hewan ini memiliki nama lain, yakni Paksi Liman Jonggo Yokso. Dia identik dengan warna emas. Berkilau ditempa matahari sebagai ikon penanda di halaman depan Museum Mulawarman.

Hewan mitologi ini berwujud lembu atau sapi yang memiliki belalai dan bertaring seperti gajah. Punya sayap seperti burung, punya kuku dan taji seperti ayam jantan, bersisik seperti naga, serta bermahkota bagaikan seorang raja.

Dikutip dari National Geographic, Rabu, 30 Agustus 2023, kemunculan sosok hewan mitologi ini dikaitkan dengan lahirnya Putri Karang Melenu. Lembuswana dipercaya pertama kali muncul dari dasar sungai, bersamaan dengan kelahiran sang putri. Hewan bersayap besar ini memungkinkannya terbang di atas Sungai Mahakam. Sementara Putri Karang Melenu kelak menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti—di mana kelak anak-anak mereka menjadi penerus dinasti raja Kutai Kartanegara.

Bacaan Lainnya

Menurut legenda, Lembuswana menjaga Sungai Mahakam dari bahaya dan memastikan bahwa airnya tetap bersih dan jernih. Dia juga dipercaya dapat membantu nelayan mencari rezeki dengan memberikan petunjuk lokasi menangkap ikan.

Walau hewan ini masih dikatakan makhluk mitologi, dia merupakan bagian penting dari budaya Kalimantan Timur. Banyak orang masih percaya bahwa Lembuswana benar-benar ada dan menjaga Sungai Mahakam hingga saat ini.

Leluhur warga Kutai mempercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman. Hewan ini dianggap mirip tunggangan Dewa Siwa.

Satwa mitologi ini telah menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa. Unsur belalainya menandakan bahwa dia juga merupakan perlambang sosok dari Ganesha—yang dipercaya sebagai Dewa Kecerdasan.

Lembuswana telah meretas dari masa-masa, mulai dari Zaman Kerajaan Hindu tertua sampai Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Namun, maknanya bagi masyarakat tetap sama hingga ini: bahwa sosok ini mengikhtisarkan pula pemimpin yang mulia seharusnya juga mengayomi rakyat.

(Toni)

Pos terkait