BMKG Prediksi Kemarau Terjadi Usai Lebaran, Akademisi UGM Ingatkan Ancaman Gagal Panen

Ilustrasi musim kemarau yang diprediksi datang lebih cepat. - Dok UGM
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, serta memiliki intensitas hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan.

Perubahan pola musim yang mulai terasa sejak April ini diperkirakan memengaruhi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air, baik dari hujan maupun sistem irigasi.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, mengingatkan bahwa kemarau panjang berpotensi memicu gagal tanam dan gagal panen.

“Kemarau yang panjang dapat menyebabkan gagal tanam dan gagal panen yang pada akhirnya menurunkan produksi pertanian,” kata Bayu, Selasa, 10 Maret 2026.

Bacaan Lainnya
Petani Perlu Adaptasi

Menurut Bayu, pelaku usaha di sektor pertanian perlu segera melakukan adaptasi menghadapi kondisi musim yang lebih kering. Komunikasi yang intensif antara petani dan penyuluh menjadi faktor penting agar informasi cuaca dapat tersampaikan secara cepat dan tepat.

Ia menilai masih banyak petani yang belum memperoleh informasi cuaca secara memadai. Karena itu, peran penyuluh sangat penting untuk membantu petani menyesuaikan pola tanam sekaligus memitigasi risiko gagal panen.

“Petani dan penyuluh menjadi kunci di tingkat lapangan dalam menghadapi kemarau panjang,” ujarnya.

Bayu juga menekankan pentingnya penyampaian informasi cuaca dari BMKG hingga ke tingkat desa agar petani dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola lahan.

Inovasi Varietas Tahan Kekeringan

Selain adaptasi di tingkat petani, Bayu menilai peran peneliti dari perguruan tinggi maupun lembaga riset sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim.

Pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga produktivitas pertanian.

“Inovasi varietas tahan kekeringan penting agar produktivitas tetap terjaga meskipun ketersediaan air terbatas,” katanya.

Kemarau Diprediksi Lebih Cepat

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya.

Kondisi ini dipicu berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang kini bergeser ke fase netral. Pemantauan anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan kondisi tersebut berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.

“Mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat mencapai 50–60 persen,” ujarnya dalam konferensi pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

BMKG juga memprediksi kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) akan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun.

Puncak Kemarau Agustus

Peralihan angin baratan atau monsun Asia menuju angin timuran atau monsun Australia menjadi penanda dimulainya musim kemarau di Indonesia.

BMKG mencatat 114 zona musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki kemarau pada April 2026, meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan sebanyak 184 ZOM (26,3 persen) akan memasuki musim kemarau pada Mei, disusul 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni.

Secara keseluruhan, awal kemarau di 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi lebih cepat dari biasanya.

“Wilayah yang mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga Papua,” kata Ardhasena.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia.

Sebagian wilayah lain diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Lebih Kering dan Lebih Panjang

BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 umumnya berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.

Sebanyak 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari normal, sementara 245 ZOM atau 35,1 persen berada pada kategori normal.

Hanya tiga ZOM atau sekitar 0,4 persen wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih basah dari normal, yakni di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.

“Durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan lebih panjang dari biasanya,” kata Faisal.

Antisipasi Dampak Kemarau

BMKG mengingatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen lebih singkat.

Penguatan pengelolaan sumber daya air juga diperlukan melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi agar ketersediaan air tetap terjaga bagi kebutuhan domestik maupun sektor energi.

Selain itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang.

“Informasi prediksi ini merupakan peringatan dini yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh para pemangku kepentingan,” ujar Faisal.***

Pos terkait