Jakarta Diguyur Hujan Sehari Semalam, 41 RT Tergenang

Kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, tergenang setelah dilanda hujan sehari semalam, Jumat (20/2). - TMC Polda Metro Jaya
Hujan yang turun sejak dini hari mengubah pagi Jakarta menjadi lanskap genangan, dengan 41 RT dan lima ruas jalan tercatat terendam hingga pukul 06.00 WIB.

Air datang perlahan namun pasti sejak Kamis (19/2) hingga Jumat pagi jelang siang (20/2), menyusuri permukiman dan menutup sebagian akses jalan di ibu kota. Data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menunjukkan 41 Rukun Tetangga dan lima ruas jalan terdampak.

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menyampaikan bahwa genangan tersebar di sejumlah wilayah administrasi. Hingga pembaruan pukul 06.00 WIB, konsentrasi genangan permukiman berada di Jakarta Selatan, sementara genangan jalan tersebar di Jakarta Utara, Barat, dan Selatan.

“BPBD mencatat saat ini terdapat 41 RT dan 5 ruas jalan tergenang,” ujar Yohan dalam keterangan tertulisnya, Jumat pagi.

Bacaan Lainnya
Jakarta Selatan Paling Terdampak

Di Jakarta Selatan, air tidak hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga merambat hingga ke ruang-ruang dalam permukiman. Di Kelurahan Cilandak Barat, satu RT terendam dengan ketinggian sekitar 40 sentimeter akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.

Lebak Bulus mencatat satu RT terdampak dengan ketinggian 60 sentimeter. Penyebabnya serupa: luapan Kali Grogol Mampang yang tak lagi mampu menampung debit air.

Di Cipete Utara, tiga RT terendam dengan ketinggian mencapai 110 sentimeter. Hujan deras yang turun berjam-jam mempercepat limpasan air dari hulu ke hilir. Sementara di Cilandak Timur, dua RT terendam dengan ketinggian antara 60 hingga 130 sentimeter—angka yang cukup untuk menghentikan aktivitas warga sejak pagi.

Petogogan menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbanyak. Sebanyak 28 RT tergenang, meski dengan ketinggian relatif lebih rendah, sekitar 20 sentimeter. Namun genangan setinggi itu tetap menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi skala rumah tangga.

Di Ulujami, enam RT terdampak dengan ketinggian 60 hingga 80 sentimeter akibat luapan Kali Uangan. Polanya serupa: kombinasi curah hujan tinggi dan kapasitas sungai yang terbatas.

Data ini memperlihatkan bahwa problem klasik Jakarta—curah hujan ekstrem, luapan kali, dan sistem drainase yang bekerja di bawah tekanan—masih menjadi mata rantai yang belum sepenuhnya terurai.

Lima Ruas Jalan Tergenang

Genangan tidak hanya menyentuh ruang privat warga, tetapi juga nadi transportasi kota.

Di Jakarta Utara, air setinggi 30 sentimeter menggenangi Jalan Gaya Motor Raya, Kelurahan Kebon Bawang. Di Jakarta Barat, dua ruas jalan di Kelurahan Joglo—Jalan Strategi Raya dan Jalan Basoka Raya—terendam masing-masing setinggi 30 dan 40 sentimeter.

Jakarta Selatan mencatat genangan di Jalan Ciledug Raya depan SPBU Shell, Kelurahan Petukangan Selatan, dengan ketinggian 30 sentimeter. Satu titik lain berada di Jalan Komplek Puri Mutiara V, Kelurahan Cilandak Barat, dengan ketinggian air 40 sentimeter.

Bagi kota yang bergerak dengan ritme kendaraan dan komuter, genangan setinggi itu bukan sekadar angka. Ia berarti perlambatan arus, antrean panjang, dan waktu yang terpotong.

Upaya Penanganan

Sejak pagi, BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel ke sejumlah titik. Koordinasi dilakukan dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan.

Tim gabungan melakukan penyedotan air dan memastikan saluran air berfungsi optimal. Pemerintah daerah juga menyiapkan kebutuhan dasar bagi warga terdampak, sebagai langkah antisipatif jika genangan bertahan lebih lama.

Yohan menegaskan bahwa genangan ditargetkan surut dalam waktu cepat. Target itu kini berpacu dengan cuaca dan kapasitas infrastruktur yang ada.

Hujan mungkin berhenti siang nanti, atau justru kembali turun menjelang petang. Namun setiap peristiwa seperti ini selalu menjadi pengingat bahwa Jakarta hidup berdampingan dengan air—dan bahwa setiap musim hujan adalah ujian berulang bagi tata kelola kota.

Di antara genangan yang perlahan surut, kota ini kembali menimbang pertanyaan lama: seberapa siap ia menghadapi air yang selalu menemukan jalannya.***

Pos terkait