Dikenal tawaduk dan istiqamah mengajar hingga usia senja, KH Anwar Manshur menjadi panutan santri dan umat sebagai penjaga tradisi pesantren salaf di Jawa Timur.
KH Anwar Manshur—atau akrab disapa Mbah Yai War—adalah sosok ulama karismatik yang menjadi teladan bagi ribuan santri dan masyarakat luas. Selain sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dia juga menjabat sebagai Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur masa khidmat 2024–2029.
Banyak kalangan menyebutnya sebagai Paku Bumi Jawa Timur karena keteguhan dan keseimbangannya dalam menjaga nilai-nilai Islam tradisional.
Lahir pada 1 Maret 1938, Mbah Yai War berasal dari keluarga ulama besar. Ia adalah putra dari KH Manshur Jombang dan Nyai Salamah, cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan yang sarat dengan tradisi ilmu dan spiritualitas.
Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang, kemudian di Pondok Pesantren Tebuireng, sebelum akhirnya kembali ke Lirboyo untuk menuntaskan perjalanan intelektualnya.
Atas bimbingan KH Mahrus Aly, beliau mendirikan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiat khusus bagi santri putri pada 15 September 1985 (1 Muharram 1406 H). Di tengah arus modernisasi, Mbah Yai War konsisten mempertahankan sistem pendidikan salaf yang diwariskan para pendiri Lirboyo. Ia menolak memasukkan kurikulum umum demi menjaga kemurnian tradisi pesantren.
Keistiqamahan beliau dalam mengajar menjadi legenda di kalangan santri. Menurut M. Agus Syarif Rofiqi, anggota Himasal Depok, setiap malam Ramadan pukul 02.00 WIB, Kiai Anwar melaksanakan salat malam di Masjid Lawang Songo Lirboyo, dilanjutkan dengan i’tikaf, mengimami salat Subuh, lalu mulai mengaji kitab hingga masuk waktu Zuhur.
“Beliau bisa membaca kitab berjam-jam, bahkan kadang memukul paha agar tidak mengantuk,” ujar Agus, Rabu (15/10).
Di luar bulan Ramadan, rutinitas itu tidak banyak berubah. Setiap Jumat, sekitar setengah jam sebelum waktu salat, ia sudah berada di masjid untuk memimpin bacaan Selawat Jibril dan Selawat Nariyah, lalu berkhutbah, mengimami salat Jumat, dan memimpin tahlil di maqbarah Lirboyo.





