Dugaan korupsi kuota haji yang menyeret nama PBNU membuat Mahfud MD prihatin dan para kiai gelisah. Mereka mendesak KPK segera menuntaskan kasus ini agar citra NU tidak makin tercoreng.
__________
Mantan Menkopolhukam Mahfud MD mengaku sedih melihat nama Nahdlatul Ulama (NU) terseret dalam kasus dugaan korupsi kuota haji. Menurutnya, sulit membayangkan dana haram itu benar-benar mengalir secara resmi ke dalam tubuh PBNU.
“Agak susah rasanya percaya korupsi seperti itu mengalir ke organisasi sebesar PBNU. Yang mungkin terjadi, bukan kelembagaan, tapi oknum di dalam PBNU,” ujar Mahfud, dikutip dari kanal YouTube-nya, Rabu (17/9).
Mahfud menegaskan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pasti sudah memiliki indikasi kuat sebelum menyampaikan ke publik. Namun, ia menilai perlu diperjelas apakah dana itu benar masuk ke institusi PBNU atau hanya kepada individu.
Ia juga menguraikan modus yang kerap terjadi, di mana kuota jamaah reguler sebanyak 8.600 orang diduga dialihkan menjadi haji khusus dan dijual ke travel. Dari skema ini, biaya haji bisa melonjak dari Rp90 juta menjadi Rp700 juta karena adanya kickback.
“Travel kontraknya resmi pasti beres. Tapi, biasanya ada kickback diam-diam. Jadi, sangat mungkin ada oknum PBNU yang bermain, bukan organisasinya,” kata Mahfud.
Kiai Lirboyo: NU Jadi Bahan ‘Bullying’
Keprihatinan juga datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Abdul Mu’id Shohib. Ia menyesalkan NU kini menjadi bahan perundungan di media sosial.
“Saya terus terang prihatin NU jadi bahan bullying di medsos. Kalau ada oknum salah, KPK segera ambil tindakan. Warga NU sudah rasional, tidak akan reaktif,” ujar Gus Muid, Selasa (16/9).
Ia menambahkan banyak kiai berkeluh kesah ke Ketua Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, berharap NU kembali ke khittah perjuangan umat, bukan kepentingan pragmatis kelompok tertentu.
Gus Ipul: NU Jadi Omongan Warung
Nada serupa diungkapkan KH Agus Muhammad Ali Syaifullah atau Gus Ipul dari Ponpes Darur Roja’, Blitar. Menurutnya, isu korupsi ini sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat bawah.
“NU kok ngene (NU kok begini). Orang kecil mengeluh haji sulit dan ribet, sementara orang besar malah bermain,” katanya.
Gus Ipul mengingatkan, suara-suara sumbang yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap NU harus segera ditangani, baik secara struktural maupun kultural.***





