Digital Detox, Kunci Sehat Mental di Era Gawai

Digital detox itu perlu untuk kehidupan masyarakat masa kini yang tak bisa lepas dari gawai. Demi kesehatan mental. | ILUSTRASI dibikin dengan AI - Samudrafakta
Paparan gawai berlebihan bisa memicu gangguan emosi dan perilaku lintas usia. Psikolog Yusdiranti Barus menyarankan digital detox sebagai langkah penting menjaga kesehatan mental.

__________

Gawai kini menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, layar digital terus menyala. Kebiasaan ini, kata psikolog Yusdiranti Barus, bisa berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental jika dibiarkan tanpa kontrol.

“Digital detox itu penting. Kita harus belajar membatasi diri dan bijak memilih konten,” ujarnya, Jumat, 18 Juli 2025.

Yusdiranti menekankan, orang tua berperan besar dalam membentuk kebiasaan digital sehat. Anak-anak perlu contoh konkret dan pengawasan rutin agar bisa mengembangkan kontrol diri sejak dini.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, konsumsi konten negatif yang berulang bisa membentuk perilaku menyimpang. Oleh karena itu, waktu penggunaan gawai harus dibatasi, terutama saat anak sedang belajar, beribadah, atau beristirahat.

“Anak di bawah tiga tahun sebaiknya tidak diberi gadget sama sekali,” tegasnya.

Untuk anak usia 3–5 tahun, durasi maksimal adalah satu jam per hari—dan sebaiknya lebih sedikit. Sementara itu, anak usia 6–12 tahun disarankan menggunakan gawai tak lebih dari 1,5 jam sehari. Bagi remaja 12–18 tahun, batas waktu yang dianjurkan adalah dua jam per hari, dengan pengawasan konten secara aktif.

Digital detox bukan sekadar mengurangi waktu layar, tapi juga membangun kembali koneksi dengan dunia nyata. Salah satu langkahnya adalah menciptakan momen keluarga tanpa kehadiran layar—bercengkerama, bermain, atau makan bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *