Slank Luncurkan Single Terbaru, Liriknya Bikin Panas Telinga: “Fufufafa”

Republik Fufufafa
Tangkapan layar video klip Republik Fufufa.
Slank kembali bikin gaduh. Band rock legendaris itu merilis single terbaru berjudul “Republik Fufufafa”, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-42 mereka. Bukan sekadar comeback, lagu ini langsung memantik perbincangan panas di ruang publik—terutama di kolom komentar YouTube.

Sejak diunggah di kanal resmi Slank pada 28 Desember 2025, “Republik Fufufafa” cepat dikaitkan dengan identitas lama band tersebut: vokal, satir, dan tanpa basa-basi dalam menyentil realitas sosial-politik. Liriknya lugas, nadanya “slengean”, tapi pesannya tajam menusuk.

Respons netizen pun mengalir deras. Dikutip dari akun Youtube Musik Slank pada Senin, 29 Desember 2025, banyak yang menyebut Slank “kembali ke jalur”. “Comeback yang benar-benar comeback. Rindu Slank kayak gini,” tulis akun @RifaniMuhammad-s7p4f.

Komentar lain menyebut rilisan ini sebagai penutup tahun yang “meledak”. “Penutup tahun 2025 dengan REPUBLIK FUFUFAFA,” kata @koharkrishna.

Nada nostalgia bercampur euforia terasa kuat. “Ini genre Slank yang gue kenal sejak 1997. Slank is back,” tulis @imamerianto. Sementara akun @putrasanjayapurba9081 menyimpulkan singkat: “Akhirnya rock n roll is back.”

Tak hanya soal musik, pesan di balik lagu juga ikut disorot. Sejumlah netizen menilai Slank kembali bersikap kritis dan tidak berpihak pada kekuasaan. “Ini baru Slank yang aku kenal, yang nggak berpihak kepada penguasa. Semoga tetap begini,” tulis @eenfatimah7804, komentar yang langsung disambut ratusan balasan.

Namun, tak semua komentar bernada pujian. Ada pula suara sinis yang mengingatkan masa lalu.
“Telatlah, kenapa dulu dukung si fufufafa juga mereka,” tulis @firmanmigunansyah9582, yang langsung dibalas netizen lain: “Lebih baik telat daripada belum insaf,” sahut @sigittrinovianto5196.

Video musik “Republik Fufufafa” ikut mencuri perhatian. Personel Slank tampil dengan riasan ala Joker—simbol kekacauan dan ironi. “Style Joker-nya keren dan matching dengan temanya,” komentar @petanigagal9649.

Video ini disutradarai Riandhani Yudha Pamungkas, dengan visual penuh simbol yang mempertegas kritik dan satire dalam lagu. Slank pun mengajak penggemar menikmati karya ini lewat video musik maupun platform streaming digital.

Di usia 42 tahun, Slank seolah menegaskan satu hal: mereka belum habis. Rock masih keras, lirik masih berani, dan keberpihakan—atau ketidakberpihakan—mereka kembali jadi bahan debat.
Seperti komentar @YuanaMuchtarLai: “Sang legenda akhirnya bersuara. Kita tertipu berjamaah.”

Slank, sekali lagi, membuat publik ribut. Dan tampaknya, itulah yang sejak awal mereka inginkan.