Ketika Iran dan Israel terus saling berbalas rudal, korban jiwa terus bertambah, dan dunia hanya bisa menyerukan damai dari kejauhan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump muncul dengan pernyataan menohok.
__________
“Iran tidak akan memenangkan perang ini. Mereka (Iran dan Israel) harus berbicara sekarang juga, sebelum semuanya terlambat,” kata Trump, menjelang keberangkatannya ke Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Kanada, Senin, 16 Juni 2025, sebagaimana dikutip AFP.
Trump mengaku menyesalkan batalnya negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington, yang seharusnya digelar pada hari Ahad lalu. Situasi yang kian panas membuat ruang dialog runtuh, digantikan oleh deru misil dan kabar duka.
Data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat 224 warga tewas, lebih dari 1.200 luka-luka. Sementara itu, Israel melaporkan 24 orang tewas dan 592 lainnya terluka akibat gempuran balasan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghubungi Presiden Iran, menawarkan diri sebagai fasilitator perdamaian. China mendesak kedua negara segera menahan diri demi menghindari kekacauan yang lebih luas. Sedangkan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan ada konsensus di antara pemimpin G7 untuk meredakan konflik ini.
Namun di Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersikeras bahwa serangan ke Iran adalah bagian dari strategi mempertahankan diri. Ia menyebut program nuklir dan rudal Teheran sebagai ancaman eksistensial.
Dari Wina, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan bahaya yang lebih senyap namun tak kalah mematikan: ancaman terhadap keselamatan nuklir. Ia menyebut sebagian infrastruktur situs pengayaan uranium Natanz rusak, meski kadar radiasi di luar lokasi masih terpantau normal.
“Keselamatan nuklir kini dikompromikan. Ini alarm bahaya yang nyata,” ujarnya dalam rapat luar biasa IAEA.***





