Presiden Prabowo Subianto di tengah konflik Gaza dan perang tarif dagang dengan Amerika Serikat menggagas langkah yang menyita perhatian: evakuasi warga Gaza ke Indonesia. Rencana ini, menurut Ketua MPR RI Ahmad Muzani, bukan sekadar aksi kemanusiaan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
__________
“Yang direncanakan Presiden Prabowo adalah evakuasi tenaga medis dan pendidik dari Gaza ke Indonesia sebagai bagian dari persiapan menuju Palestina merdeka,” kata Muzani seperti dilansir Antara, Kamis, 17 April 2025.
Menurut Muzani, dukungan Indonesia untuk Palestina telah lama mengakar, baik melalui diplomasi maupun bantuan konkret. Kini, dengan evakuasi ini, Indonesia akan melatih warga Palestina di bidang kesehatan dan pendidikan, mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang mumpuni untuk rekonstruksi pascakonflik.
Namun, niat baik ini tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Di Yogyakarta, Dr. Ratih Herningtyas, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyebut langkah tersebut “naif” dan berpotensi melemahkan posisi Palestina sebagai bangsa yang sedang memperjuangkan kedaulatan.
“Tindakan evakuasi ini seperti amnesia terhadap root cause dari konflik Palestina-Israel. Ini bukan sekadar bencana kemanusiaan, tapi soal agresi terhadap negara berdaulat,” kata Ratih dikutip dari laman UMY.
Menurutnya, pemindahan warga, bahkan dalam konteks bantuan kemanusiaan, dapat menjadi preseden berbahaya. Ia mengkhawatirkan rencana ini bisa mempercepat skenario yang diimpikan Israel: pengosongan demografis Gaza.
“Apakah pemerintah Indonesia dapat menjamin bahwa setelah dievakuasi, mereka bisa kembali ke Gaza? Biasanya, setelah keluar, akan sulit untuk kembali,” ujarnya.
Isu ini juga disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan situasi geopolitik dan ekonomi global. Ratih menyoroti kebijakan tarif 32 persen yang sempat diberlakukan Amerika Serikat kepada Indonesia. Sehari setelah kunjungan Prabowo ke Timur Tengah—yang disebut-sebut untuk “mengambil hati” Donald Trump—kebijakan itu ditangguhkan, dan tarif dikembalikan menjadi 10 persen.
“Ini seperti ‘kompensasi diplomatik’ yang mencerminkan ketidaktegasan kita. Bahkan, ini bisa menjadi justifikasi bagi negara lain untuk ikut mengevakuasi warga Gaza, sebuah praktik yang bisa dimaknai sebagai bagian dari proses ethnic cleansing,” ujar Ratih.
Meski begitu, Muzani menegaskan bahwa warga Palestina hanya akan tinggal sementara di Indonesia dan akan kembali ke Gaza setelah situasi membaik. “Syaratnya, semua pihak harus menyetujui. Mereka hanya tinggal sementara sampai pulih dan bisa kembali ke Gaza,” ujar Prabowo sebelum bertolak ke Abu Dhabi, dalam kunjungan diplomatiknya ke Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania.
Kunjungan itu, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri, merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan. Di sisi lain, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) telah menyiapkan agenda untuk membangun kembali masjid, sekolah, dan rumah sakit Indonesia yang rusak di Palestina.
Meski langkah ini terlihat sebagai bentuk konkret dari komitmen Indonesia terhadap Palestina, sejumlah pengamat menilai, Indonesia sebaiknya fokus pada penghentian serangan militer Israel, bukan sekadar mengevakuasi sebagian korban.
“Kenapa tidak fokus saja memperjuangkan gencatan senjata dan pembukaan jalur bantuan ke Gaza? Itu lebih strategis ketimbang evakuasi yang justru bisa menguntungkan Israel,” tegas Ratih.***





