Dualisme Kepemimpinan PMI Dinilai sebagai Praktik Politik Kebablasan, Layanan Kemanusiaan Terancam Kacau

Ketua Umum PMI yang baru terpilih kembali, Jusuf Kalla (kiri), bakal melaporkan bakal calon Ketua Umum Agung Laksono (kanan) karena telah mengadakan Munas PMI Tandingan. (Kolase Istimewa)
Palang Merah Indonesia (PMI) kisruh gegara dualisme kepemimpinan di tubuh organisasi kemanusiaan itu, di mana PMI versi Jusuf Kalla terlibat friksi dengan versi Agung Laksono. Pengamat menilainya sebagai praktik politik yang terlalu bablas. Masyarakat pemanfaat jasa PMI harus kena imbas.

Associate Professor Public Health dari Monash University Indonesia, Grace Wangge, memandang polemik dualisme kepemimpinan PMI mencerminkan praktik politik yang sudah kebablasan.

Sedihnya, kata dia, kekisruhan ini melibatkan para tetua atau sesepuh, yang menurut dia sudah seharusnya bertindak bijak dalam meneruskan estafet kepemimpinan.

Grace juga mengingatkan jika PMI punya fungsi penanganan bencana, pelayanan kesehatan sosial, dan koordinator donor darah. Kekisruhan ini, kata dia, berdampak pada masyarakat yang seharusnya menerima layanan PMI—kendati dia sendiri belum bisa memperkirakan sebesar apa dampaknya bagi kerja jajaran PMI.

Bacaan Lainnya

“Mungkin yang akan terdampak adalah mengenai masalah stok darah dan distribusinya. Yang membutuhkan darah itu banyak jenis pasiennya. Jadi mungkin tidak berlebihan kalau kita menganggap layanan pasien bisa terdampak,” kata Grace, Selasa, 10 Desember 2024.

Dampak Kisruh pada Pelayanan Kemanusiaan

Sementara itu, menurut pengamat kesehatan masyarakat Iqbal Mochtar, kekisruhan PMI berpotensi membuat layanan kesehatan dan kemanusiaan yang menjadi tugas mereka terganggu. Masyarakat yang jadi sasaran layanan dan tugas kemanusiaan PMI, kata dia, bakal menerima ketidakefektifan layanan.

Iqbal mengingatkan bahwa banyak tipe pasien yang sangat bergantung pada PMI, terutama yang membutuhkan stok darah untuk transfusi. Ketergantungan ini bakal berakibat fatal bila tidak terkoordinasi baik gegara organisasi yang mengalami pecah kongsi.

Pasien yang secara akut membutuhkan stok darah, seperti orang yang mengalami kecelakaan parah dan mengalami trauma atau kekerasan, misalnya, tak akan bisa segera terlayani.

Selain itu ada juga tipe pasien yang memang secara kronis bergantung terus-menerus dengan stok darah yang disediakan PMI, seperti pasien hemofilia, leukimia, kanker darah, hingga talasemia.

Pos terkait