Perusahaan Produsen Tupperware, Wadah Makanan dan Minuman dari Plastik Kebanggan Ibu-Ibu Indonesia, Resmi Bangkrut

Rupa-rupa produk wadah makanan dan minuman Tupperware. (Foto: IST/ Twitter)
Massachusett – Tupperware Brands, perusahaan produsen Tupperware, salah satu jenama wadah penimpan makanan dan minuman berbahan plastik, yang menjadi merk favorit kebanggaan Ibu-ibu Indonesia, resmi mengajukan pailit setelah megap-megap karena penjualannya terus menerus anjlok.

Perusahaan asal Massachusetts Amerika Serikat (AS), yang mulanya dikenal dengan penjualan produknya secara langsung ke konsumen (direct selling) ini mengalami kerugian yang meningkat karena drastisnya permintaan.

Penjualannya merosot dalam beberapa tahun terakhir di tengah strategi baru perusahaan menempatkan lebih banyak produknya di toko ritel dan platform penjualan daring.

Dilansir dari Guardian, Tupperware  mengajukan pailit di kantor pusat mereka di Amerika Serikat (AS) dan sedang berupaya mencari pemilik baru.

Penurunan omzet penjualan Tupperware sebenarnya sudah diwanti-wanti sejak beberapa waktu lalu. Manajemen perusahaan tersebut memperingatkan pada tahun lalu terkait risiko bangkrut kecuali mereka mengumpulkan dana darurat.

Menurut Susannah Streeter, analis dari perusahaan jasa keuangan Hargreaves Lansdown, ada beberapa hal yang menyebabkan longsornya penjualan Tuuperware. Yaitu, kesalahan pelaporan keuangan Tupperware yang sempat terjadi untuk tahun 2021 dan 2022, disebut berdampak buruk pada perusahaan.

Di luar itu, Streeter mengatakan ada perubahan perilaku konsumen yang membuat wadah plastik tidak populer lagi. “Konsumen mulai mengurangi ketergantungan pada plastik dan mencari cara yang lebih ramah lingkungan untuk menyimpan makanan,” ujarnya.

“Beberapa waktu terakhir, pestanya telah usai bagi Tupperware,” tandas Susannah Streeter.

Para petinggi perusahaan sudah berusaha mencari pembeli potensial yang dapat “melindungi merek ikoniknya dan memajukan transformasi Tupperware menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital”.

Tupperware juga meminta izin ke pengadilan untuk memulai penjualan bisnisnya dan ingin perusahaan terus beroperasi selama proses kebangkrutan berlangsung.

“Selama beberapa tahun terakhir, posisi kas perusahaan sangat terdampak oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang,” kata President and CEO Tupperware Laurie Ann Goldman dilansir BBC, Jakarta, Rabu (18/9/2024).

“Akibatnya, kami menjajaki berbagai opsi strategis dan memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik ke depan. Proses ini dimaksudkan untuk memberi kami fleksibilitas penting saat kami mencari alternatif strategis untuk mendukung transformasi kami menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital dan lebih siap melayani para pemangku kepentingan kami,” kata Laurie Ann.

Dikutip dari bunyi berkas pengadilan sebagaimana lansir Reuters, Kamis (19/9/2024), perusahaan tersebut memiliki utang sebesar US$812 juta (sekitar Rp 12,4 juta triliun).

“Para pemberi pinjaman baru telah berupaya menggunakan posisi utang mereka untuk menyita aset Tupperware termasuk kekayaan intelektualnya seperti mereknya, yang mendorong perusahaan untuk mencari perlindungan kebangkrutan,” kata manajemen perusahaan, sebagaimana dimuat laman yang sama.

Lonjakan biaya tenaga kerja, pengiriman, dan bahan baku pascapandemi seperti resin plastik juga menekan bisnisnya. Perusahaan bermaksud untuk melanjutkan operasi dan melakukan proses penawaran selama 30 hari untuk menemukan investor baru bagi seluruh perusahaan.

Tupperware sempat mengalami kenaikan penjualan singkat selama pandemi, karena tren banyak orang memasak di rumah. Namun, hal tersebut tidak dapat membantu perusahaan karena permintaan terus menurun.

Hal ini diperparah dengan meningkatnya biaya bahan baku, upah yang lebih tinggi dan biaya transportasi juga telah menggerogoti margin keuntungannya.

Sementara, saham Tupperware anjlok lebih dari 50% minggu ini setelah laporan bahwa perusahaan tersebut berencana untuk mengajukan kebangkrutan.

“Dengan neraca yang baru-baru ini, direstrukturisasi dan dorongan keuangan sementara, leverage Tupperware yang tinggi, penjualan yang menurun, dan margin keuntungan yang menyusut, terlalu berat untuk diatasi,” kata ketua eksekutif di firma analisis keuangan RapidRatings, James Gellert.

Tupperware memiliki perkiraan aset sebesar US$500 juta hingga US$1 miliar dan perkiraan kewajiban sebesar US$1 miliar hingga US$10 miliar. Perusahaan tersebut mencantumkan jumlah kreditor antara 50.001 dan 100.000.

Riwayat Tupperware Brands

Tupperware didirikan pada tahun 1946 oleh seorang ahli kimia bernama Earl Tupper, yang mematenkan fitur isolasi atau segel kedap udara yang fleksibel pada wadah.

Tupperware menjadi inovasi besar pria kelahiran pria kelahiran 28 Juli 1907 itu. Penggunaan plastik baru untuk menjaga makanan tetap segar lebih lama  sangat berharga saat lemari es masih terlalu mahal bagi banyak keluarga.

Tupperware merupakan penemuan besar karena  memanfaatkan jenis plastik baru untuk menjaga makanan tetap segar lebih lama. Temuan ini sangat berharga mengingat saat itu kulkas masih dirasa terlalu mahal bagi banyak keluarga.

Tupper turut memeriahkan pasar Amerika yang kembali bergairah pasca Perang Dunia II, dengan meluncurkan produk pertamanya yang segera disambut dengan antusias, yaitu wadah penyimpan makanan Wonderlier Bowl dan Bell Tumbler dengan merek Tupperware.

Wadah Tupperware itu dijual pula ke toko perkakas dan department store namun tak begitu laris. Hingga sekitar 1946, dia bekerja sama dengan Brownie Wise, yang bekerja di sebuah perusahaan bernama Party Plan.

Dia melihat potensi Tupperware untuk dijual dengan cara yang sama, yaitu dibawa ke pesta-pesta. Tak lama kemudian, dia berhasil menjual Tupperware lebih banyak.

Pada 1951, Tupperware diambil dari toko-toko dan dijual secara eksklusif di pesta-pesta di bawah naungan Brownie Wise, wakil presiden pertama bisnis Home Parties yang baru.

Seiring perkembangan perusahaan, kantor pusat perusahaan kemidian dipindahkan dari Massachusetts ke Orlando, Florida.  Setelah perselisihan Tupper dengan Wise yang mengakibatkan pemecatannya pada 1958, Tupperware menjual The Tupperware Company seharga US$16 juta kepada Rexall.

Perusahaan itu tetap setia pada akarnya, dengan hanya menjual melalui konsultan yang disetujui. Perusahaan ini kemudian juga berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Ragam produknya kemudian diperluas hingga mencakup wadah tahan microwave, peralatan pembeku, dan produk seperti pisau dan gunting.

Tupperware sempat hits di Amerika Serikat pada tahun 1950-1960an. Ketika itu para wanita dari generasi pascaperang menjual wadah tersebut karena “mencari pemberdayaan dan kemandirian”.

Para tenaga penjual, yang sebagian besar adalah perempuan, kala itu juga rajin mengadakan ‘Pesta Tupperware’ untuk menjual berbagai wadah plastiknya.

‘Pesta Tupperware’ ini lantas tak hanya jadi model pemasaran langsung yang efektif, tapi juga acara sosial yang populer. Imbasnya, produk-produk Tupperware berhasil mendominasi rumah tangga di AS dan bahkan dunia. Kini, Tupperware mengeklaim berhasil menjual produknya di 70 negara berbeda.

Tupperware bahkan sempat menjadi tren bisnis tersendiri dengan metode pemasarannya yang unik. Hal ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi rumah tangga pemasarnya dengan jadwal yang fleksibel. Mereka tidak mengharuskan bekerja penuh waktu di luar rumah.

Tren tersebut juga merambah ke Indonesia, di mana kaum perempuan dan ibu-ibu rumah tangga yang menjadi sasaran pasarnya. Selamat jalan Tupperware, terima kasih sempat menjadi ‘penjaga gengsi’ ibu-ibu di Republik Indonesia.