Bedah Buku Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari: Merunut Kembali Perjumpaan Pendiri NU dan Muhammadiyah

Bedah buku KH Hasyim Asy'ari juga mengungkap perjumpaan dengan KH Ahmad Dahlan. Foto:PWMU.co
SURABAYA – Suasana khidmat menyelimuti ruang pertemuan Hotel KHAS Surabaya ketika acara peluncuran dan bedah buku berjudul Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia berlangsung.

Acara yang diadakan oleh Ikatan Alumni Pondok Pesantren Tebuireng (Ikapete) ini mengusung tema “Rais Akbar Sang Pemersatu Umat Islam” dan menghadirkan tokoh-tokoh penting untuk berbicara tentang sosok besar yang dikenal sebagai pemersatu umat Islam di Indonesia.

Para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah silih berganti memberi tanggapan.  Ada  Ketua Ikatan Sarjana NU (ISNU) Jawa Timur Prof. Dr. H. Mas’ud Said MM, PhD; Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof. Dr. H Maskuri MSi; bakal calon Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, PhD; dan Sekretaris PWM Jatim Prof. Dr. Biyanto MAg.

Prof. Biyanto memberi apresiasi terhadap buku yang baru diluncurkan. “Saya sebagai orang Muhammadiyah merasa baru membaca buku seperti ini dalam sudut pandang saya. Membaca Kiai besar tapi menceritakannya sangat manusiawi dan tidak ada bumbu mistik serta tidak ada kisah klenik,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Prof. Biyanto menambahkan bahwa buku tersebut mengisahkan Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari dengan cara yang sangat manusiawi, tanpa cerita-cerita mistik yang biasanya sering muncul di berbagai pemberitaan. Menurutnya, kisah Hadratussyekh dalam mencari ilmu sama seperti kebanyakan orang, yakni dengan belajar dan usaha yang manusiawi.

Buku ini juga mengungkap perjumpaan antara KH. Hasyim Asy’ari dengan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan betapa keduanya merajut kebersamaan dan saling berbagi peran untuk memajukan umat Islam di Indonesia.

“Beliau juga berharap nantinya perjumpaan-perjumpaan lain antara KH. Hasyim Asy’ari dengan KH. Ahmad Dahlan juga harus diungkap, betapa guru-guru mereka itu merajut kebersamaan untuk berbagi peran. Hal tersebut yang harus diajarkan kepada generasi muda kita bahwa mereka ini sangat memberikan insight,” kata Prof. Biyanto, dikutip dari PWMU.co.

Acara bedah buku ini juga menyoroti fakta bahwa banyak alumni Tebuireng yang menjadi bagian dari Muhammadiyah. Hal ini, menurut Prof. Biyanto, menunjukkan potensi besar untuk memperkuat moderasi beragama jika Muhammadiyah dan NU bisa terus menjaga kerukunan.

“Kalau Muhammadiyah dan NU itu rukun, pasti akan terjadi penguatan moderasi beragama,” tegasnya.

Merujuk pada buku karya Imron Mustofa berjudul K.H Ahmad Dahlan Sang Penyantun (2018), dua bapak umat Islam di Indonesia ini bersahabat sejak sama-sama berguru kepada Kiai Saleh Darat asal Semarang. Imron menulis, saat itu Kiai Dahlan berumur 16 tahun sedangkan Kiai Hasyim berumur 14 tahun.

Dikutip dari laman Muhammadiyah, perbedaan usia inilah yang membuat Kiai Hasyim memanggil Kiai Dahlan dengan panggilan ‘Mas’ (kakak), sebaliknya Kiai Dahlan memanggil Kiai Hasyim dengan panggilan ‘Adi’ (adik). Dua tahun belajar dengan Kiai Saleh Darat, keduanya pun akhirnya berpisah.

Meskipun ada catatan yang menuliskan pertemuan Kiai Dahlan dengan Kiai Hasyim sempat terjadi beberapa tahun kemudian saat Kiai Dahlan bertamu di pondok pesantren Tebu Ireng, hubungan keduanya berlanjut saat sama-sama belajar di kota suci Makkah.

Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof Mas’ud Said, menilai bahwa Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari adalah sosok yang lengkap, bukan hanya sebagai “bintang” atau mercusuar, tapi juga seseorang yang suka “ronda” dan berbaur dengan masyarakat. “Hadratussyekh itu bukan hanya bintang atau mercusuar, tapi beliau juga suka ronda, gerilyawan, beliau mekar bersama masyarakat,” kata Mas’ud Said dikutip dari Duta.co.

Prof Mas’ud Said juga menekankan bahwa Hadratussyekh pernah belajar di pondok-pondok besar seperti Bangkalan, Kediri (Lirboyo/Ploso), dan Sidoarjo (Siwalanpanji). Selain mengajar dan mengarang 21-23 kitab, Hadratussyaikh juga sering mendatangi petani pada setiap hari Selasa dan berjuang bersama mereka.

Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, turut menambahkan bahwa Hadratussyekh mementingkan keilmuan organik dan persatuan, khususnya di kalangan umat Islam. “Hadratussyekh mementingkan keilmuan organik, bukan intelek menara gading. Warisan lain Hadratussyaikh yang penting adalah persatuan, khususnya sesama Islam,” ujarnya.

Dalam acara ini, Ikapete juga diharapkan dapat mengembangkan ideologi Aswaja, memperkuat organisasi NU secara struktural dan kultural, baik di dalam maupun luar negeri, serta meningkatkan kolaborasi dan teknologi IT di pesantren dan NU. “Aswaja dan NU itu warisan Hadratussyaikh yang harus dijaga, bagi Ikapete ya wajib,” kata Prof. Mas’ud Said.

Melalui acara ini, semangat kebersamaan dan persatuan antara Muhammadiyah dan NU diharapkan terus terjaga. Seperti yang disampaikan oleh Prof Biyanto, “Muhammadiyah dan NU itu adalah dua sayap burung Garuda artinya terbang setinggi-tingginya mempersatukan Islam.”*

Pos terkait