Jakarta | Samudra Fakta – Dunia sedang tidak baik-baik saja. Dua kutub kekuatan dunia terindikasi sedang berancang-ancang mengasah kekuatan senjata. Apakah ini bisa menjadi potensi Perang Dunia ke-III? Indonesia yang berada di tengah-tengah harus bagaimana?
Rusia, China, dan Iran akan berlatih perang dalam waktu dekat. Latihan perang ini digaungkan saat hubungan ketiga negara itu memanas dengan negara Barat. Komandan Angkatan Laut Iran Shahram pada Rabu, 12 Oktober 2022, mengatakan bahwa latihan AL digelar di Samudra Hindia dengan melibatkan beberapa negara lainnya. Ketiga negara tersebut pernah menggelar latihan yang sama di tahun ini.
Pada Januari 2022 lalu, latihan serupa juga digelar di Teluk Oman. Pada awal September, Rusia menjadi tuan rumah latihan perang gabungan 13 negara. Latihan Vostok 2022 juga pernah digelar di Timur Jauh. Sebanyak 20 ribu personel militer asing bergabung dengan 50 ribu tentara Rusia, di antaranya berasal dari Aljazair, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, China, India, Kyrgyztan, Mongolia, dan Tajikistan.
Sementara itu, di bagian lain, Australia – Inggris – Amerika menjalin kerja sama trilateral untuk membentuk pakta pertahanan baru bernama AUKUS—akronim dari Australi, UK (Inggris) dan US (Amerika Serikat). Pakta ini dibentuk pada 15 September 2021 sebagai respons Amerika dan teman-temannya terhadap dinamika pergerakan peta politik dan ekonomi masa kini. AUKUS adalah reaksi terhadap berbagai manuver ekonomi dan militer yang semakin gahar dipertontonkan, terutama oleh China, dan belakangan mendapat dukungan dari Iran dan Rusia.
Salah satu titik pertahanan AUKUS ada di Australia, persis di sebelah selatan Indonesia. Sementara lawan tanding mereka, poros China-Rusia-Iran, berada di bagian utara dan barat Indonesia.
Ancang-ancang konfrontasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2007, ketika AS, Australia, India dan Jepang membentuk The Quadrilateral Security Dialogue, disingkat Quad. Forum ini dibentuk cenderung untuk meng-contain China yang mulai menunjukkan gejala-gejala pertumbuhan yang sangat pesat.
Dan saat ini, kubu sekutu AS tegas saling berhadap-hadapan dengan poros China-Rusia-Iran. Indonesia, secara geopolitik, tergencet di tengah sitegang yang sepertinya masih jauh dari solusi itu. Bila konfrontasi militer benar-benar pecah, Indonesia yang paling terimbas.
Bagaimanakah seharusnya negara ini bersikap? Upaya diplomasi serius jelas perlu disegerakan agar Indonesia tidak menjadi rusa yang mati tergencet di tengah perkelahian dua ekor gajah.*
***Kredit foto: Ilustrasi latihan gabungan Iran, Rusia dan China (Foto: Russian Defense Ministry Press Service via AP)
Oleh: Tim Internasional Samudra Fakta
Editor: Pram

