Pidato Bung Karno 30 September 1960: Jadi Memori Dunia, Dilupakan di Indonesia

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto sebenarnya pernah mengulas perihal pidato fenomenal Bung Karno tersebut, sebagaimana laporan infonews.id pada 29 September 2021. Di situ Hasto mengatakan jika pidato Bung Karno sangat fenomenal dan dianggap dunia internasional sebagai yang terbaik saat itu. 

“Bung Karno ingin memaparkan bahwa pada suatu hari, Indonesia merdeka akan menjadi pelopor kemerdekaan dunia yang bebas dari belenggu penjajahan,” katanya, dikutip kembali oleh Samudra Fakta pada Jumat, 29 September 2023.

Hasto pun mengamini jika Pancasila bukan saja falsafah dasar, tetapi juga pandangan Indonesia bagi dunia. Di forum PBB, lanjut Hasto, Bung Karno menegaskan posisi Indonesia yang tak melibatkan diri dalam salah satu blok.

Bacaan Lainnya

“Kita bergerak aktif dan berpihak pada kemerdekaan setiap bangsa. Maka, politik luar negeri kita tak netral namun memihak. Memihak ke mana? Yaitu bergerak aktif membangun persaudaraan dunia,” katanya.

Di samping itu, papar Hasto, Bung Karno mendorong PBB berdiri bebas. Sekretariat PBB didorong untuk ditempatkan di negara yang tidak terlibat kedua blok bertikai. Bahkan, kata Hasto, Bung Karno sempat mempersiapkan Jakarta sebagai markas PBB. Lokasi yang disiapkan adalah gedung di Bundaran HI, Jakarta, yang memiliki lorong bawah tanah ke Gedung Sarinah.

“Sarinah menampilkan seluruh khazanah kebudayaan Indonesia. Itu desain besar Bung Karno. Jadi, desainnya bukan hanya memindahkan markas PBB, namun mengganti piagam PBB dengan Pancasila,” ungkap Hasto.

Dia pun membeberkan bagaimana sila-sila Pancasila dibutuhkan dunia untuk mencapai perdamaian abadi. Termasuk bagaimana prinsip penyelesaian masalah di PBB tidak lagi dilakukan dengan voting, tetapi dengan musyawarah mufakat sesuai sila keempat Pancasila.

“Pertama kalinya dalam pidato pemimpin negara Bung Karno mengutip ayat-ayat kitab suci—baik Al-Quran maupun Injil. Bung Karno ingin menegaskan bahwa kita sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, harus memperjuangkan perdamaian dunia itu,” katanya.

Bagi Hasto, ide-ide Bung Karno masih sangat relevan hingga saat ini, di mana Indonesia merupakan jembatan bagi pertikaian berbagai blok ideologi. “Kita sampaikan konsepsi bahwa dunia tak boleh lagi diwarnai imperialisme dan kolonialisme, namun sebuah dialog demi meningkatkan harkat martabat manusia,” ujarnya.

Dari sudut pandang Hasto, pidato Bung Karno seharusnya menginspirasi rakyat Indonesia saat ini, supaya terus berjuang keras untuk memastikan Indonesia menjadi pemimpin di antara bangsa dunia.

“Kepemimpinan Indonesia itulah yang kita ambil spiritnya. Dalam bidang apa pun. Kita harus menjadi juara. Kita harus kembangkan sesuatu yang khas Indonesia, namun di saat sama kita jadi pemimpin dunia,” ungkapnya.

Indonesia juga harus menjadi bangsa yang outward looking atau melihat keluar, bukan local acting dalam pengertian tak punya cakrawala luas.

“Kadang-kadang kita merasa aneh ketika ada elite yang orientasinya masih masa lalu, orientasi menakut-nakuti rakyat dengan masa lalu. Padahal seharusnya melihat masa depan, bagaimana desain kepemimpinan Indonesia masa depan,” katanya.

Sayangnya, momen membanggakan Indonesia di panggung internasional tersebut malah dilupakan oleh anak-anak negeri sendiri, yang lebih fokus pada tragedi politik yang masih menjadi kontroversi. Momen membanggakan pun bertransformasi menjadi momen duka: ketika orang seindonesia diminta untuk mengibarkan bendera setengah tiang setiap 30 September. 

*Foto: Presiden Sukarno ketika menyampaikan pidatonya di depan Sidang Umum PBB pada 30 September 1960. (Arsip Nasional)

mg-01 | Toni

Pos terkait