Investasi Bibit Rp15 Juta, Petani Durian Bawor Blitar Sudah Panen 15 Kali

Dua orang pengunjung menikmati wisata di kebun durian bawor milik Suwaji di Kesamben, Kabupaten Blitar. Kebun durian ini sudah panen 15 kali sejak tanam bibit durian bawor pada 2013 lalu. (Dok. Suwaji)
Pohon Durian Kaki Tiga Lebih Cepat Berbuah

Bibit durian kaki tiga seperti yang ditanam Suwaji dan Muharno, diketahui lebih cepat berbuah karena berbagai keunggulan. Seperti dilansir laman tanam durian, pohon durian kaki 3 merupakan pengembangan dari perbanyakan bibit secara vegetatif.

Tujuan kaki tiga adalah menciptakan pohon durian yang mampu menghasilkan buah berkualitas. Karena dengan sistem kaki tiga maka penyerapan unsur hara atau suplai makanan akan lebih terpenuhi. Kaki tiga ini dalam rangka memacu pertumbuhan serta mempercepat bibit dalam berbuah.

Dengan demikian, bibit durian kaki 3 dapat menghasilkan buah lebih cepat daripada bibit durian kaki tunggal. Hanya dalam kurun waktu 3-4 tahun pohon durian kaki 3 mampu menghasilkan buah walalupun kondisi pohon yang masih pendek.

Teknologi kaki 3 pada pohon durian sudah diperkenalkan cukup lama oleh Sarno Ahmad Darsono dari Banyumas, Jawa Tengah. Bagi Sarno, durian sudah lebih dari cinta biasa. Durian sudah beliau kenal sejak kecil sampai berproses tumbuh bersama. Hal itu membuat, Sarno bisa mengetahui durian yang bagus seperti apa. Sampai pada akhirnya, Sarno menemukan Durian Bhineka Bawor atau yang sering disebut Durian Bawor.

Dilansir dari laman Pemprov Jawa Tengah, durian bawor ini hasil okulasi dari 20 jenis durian varietas lokal dan luar. Awalnya, pada tahun 1996, Sarno mengokulasi durian montong orange dengan durian lokal seperti kuningmas, sunan, otong, bluwuk, cinimang, oneng, kereng, kumbakarna, dan petruk. Pohon durian tersebut dibagi menjadi pohon primer, sekunder, dan tersier.

Durian montong orange dijadikan pohon primer untuk okulasi ini, dengan cara dilukai beberapa bagiannya. Ada 10 tunas pohon berkualitas baik sebagai pohon sekunder yang nantinya ditempel ke pohon primer. Setelah pohon sekunder mulai melekat ke pohon primer yang memakan waktu sekitar empat bulan, pohon sekunder itu dilukai lagi agar bisa diokulasi dengan tunas pohon tersier. Banyaknya tunas pohon yang diokulasi mengakibatkan pohon primer tumbuh seperti pohon bakau yang akarnya terlihat banyak keluar.

Tahun 2000, pohon hasil okulasi itu menghasilkan 30 sampai 40 buah durian yang berbeda dari buah durian pohon primernya, durian montong orange. Jadilah durian bawor yang sekarang dikenal.Durian yang memiliki kulit tipis, daging lebih tebal, lebih puket, dan berakohol. Ukurannya juga besar, bisa mencapai 12 kilogram bahkan lebih.