Panitia tersebut juga melakukan penggalangan dana sebagai konsekuensi atas desakan tersebut. “Dalam suratnya yang dikirimkan kepada beberapa organisasi Islam, di antaranya kepada PBNU di Jakarta, panitia tersebut mengharapkan agar supaya presiden dalam masa haji tahun depan (1953) sudi kiranya mengerjakan ibadah haji dengan ketentuan, bahwa penduduk Ganding siap memikul sekadar konsekuensinya yang bertalian dengan keberangkatan itu,” demikian kutipan dalam berita LINO halaman delapan.
Desakan warga Ganding itu oleh PBNU diteruskan kepada Presiden Sukarno. Mereka berharap Bung Karno segera menentukan pendiriannya untuk menunaikan ibadah haji. Surat itu pun mendapat balasan dari Kabinet Presiden.
“Dalam surat jawaban yang diterima PBNU dari kabinet Presiden, dinyatakan bahwa memang sudah menjadi niat yang pasti bagi Paduka Yang Mulia Presiden untuk jika diizinkan oleh Yang Maha Kuasa pergi naik haji. Kapan niat itu akan dapat dilaksanakan, pada saat ini belum dapat direncanakan karena sudah barang tentu tergantung dari pada keadaan Negara.”
Presiden Sukarno akhirnya pergi haji pada 1955.
Sebagai informasi, awalnya penyelenggaraan ibadah haji jamaah dari Indonesia ditangani oleh pihak swasta, menggunakan moda transportasi kapal laut. Namun, sebagaimana dijelaskan Moeflich Hasbullah dalam Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara (2017), pemerintah mengambil kebijakan menghentikan keterlibatan pihak swasta itu melalui Keputusan Presiden No. 53/1951.
Pada 1952, pemerintah membentuk perusahaan pelayaran PT Pelayaran Muslim sebagai satu-satunya panitia haji serta memberlakukan sistem kuota. Ketika itu pula untuk pertama kalinya transportasi haji lewat udara. Namun demikian, masih banyak yang menempuhnya melalui jalur transportasi laut dengan alasan lebih hemat ongkos.
Sukarno, sebagai presiden, tentu saja pergi ke Tanah Suci naik pesawat. Dia menumpang Garuda G-340. Namun, perjalanan haji ketika itu tidak seperti sekarang. Sukarno dan rombongannya harus beberapa kali singgah di sejumlah negara, menghabiskan waktu enam hari penerbangan untuk sampai ke Jeddah, Arab Saudi. (…bersambung…)
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





