BANDUNG — Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi ancaman kesehatan utama di Indonesia. Anak-anak ternyata sangat rentan tertular penyakit ini karena memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna.
Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Yudhi Pramono, MARS, menegaskan bahwa anak-anak memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular TBC karena perkembangan tubuh mereka yang belum sempurna. Beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi terinfeksi bakteri TBC, yaitu:
- Anak di Bawah Usia 5 Tahun: Sistem kekebalan tubuh anak di bawah usia 5 tahun belum matang, sehingga bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) yang telah ada dalam tubuh mudah teraktivasi.
- Anak dengan HIV: Bakteri TBC mudah teraktivasi ketika sistem kekebalan tubuh mulai melemah karena infeksi virus HIV.
- Anak dengan Gizi Buruk: Gizi buruk pada anak menurunkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi, termasuk TBC.
- Anak yang Kontak Serumah dan Erat dengan Pasien TBC: Anak yang kontak dengan pasien TBC memiliki risiko terinfeksi bakteri TBC. Risiko ini akan semakin meningkat jika kontak adalah ibu atau pengasuh anak tersebut.
Menurut dr. Yudhi, peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli merupakan momentum untuk mendorong lebih banyak lagi populasi anak yang dapat terpapar tentang informasi dan layanan TBC, serta mendorong peningkatan upaya pencegahan dan pengobatan TBC di masyarakat.
Kampanye TBC untuk Anak-anak dan Pemuda
Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis dan Hari Anak Nasional 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bekerja sama dengan Indonesia Muda Untuk Tuberkulosis dan Otsuka Group menyelenggarakan kampanye TBC yang menyasar anak-anak dan pemuda. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait segala hal tentang TBC melalui penyebaran informasi dan deteksi dini kasus. Hal ini sejalan dengan target eliminasi TBC di Indonesia pada 2030 dengan memperkuat kapasitas dan peran berbagai pihak dalam program pencegahan dan pengendalian TBC pada anak.
Statistik TBC di Indonesia
TBC masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan WHO Global Tuberculosis Report 2023, terdapat 10,6 juta orang di dunia yang jatuh sakit karena TBC dan sebanyak 1,3 juta orang meninggal karena TBC. Indonesia termasuk delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TBC di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan 1.060.000 kasus baru dan 134.000 kematian setiap tahunnya, atau setara dengan 15 kematian setiap jam.
Dari estimasi tersebut, berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) pada 2023, sebanyak 821.200 kasus TBC (77% dari target) telah ternotifikasi dan angka kasus TBC yang diobati mencapai 86% (target 90%).