Ia lahir dari tanah Jawa, mengarungi Selat Malaka sebagai komoditas besar Asia, lalu perlahan menghilang dari piring orang Indonesia—sementara dunia justru merawat dan memuliakannya.
Uwi—umbi dari genus Dioscorea—adalah salah satu bahan pangan tertua yang pernah dikenal manusia. Catatan sejarah dari masa Dinasti Liao hingga Dinasti Ming di Tiongkok menyebutnya sebagai komoditas penting yang diperdagangkan lintas wilayah, terutama melalui Selat Malaka, jalur nadi perdagangan Asia berabad-abad silam. Dari sana, uwi mengalir ke berbagai kebudayaan, menjadi sumber karbohidrat yang lentur terhadap iklim dan waktu.
Ironisnya, tumbuhan yang disebut-sebut berasal dari tanah Jawa itu kini justru sulit dijumpai di Jawa sendiri. Pergeseran selera dan kebijakan pangan Nusantara—dari umbi-umbian ke beras—perlahan mengubah status uwi dari tanaman budidaya menjadi tumbuhan liar yang terlupakan. Di negeri yang dulu kaya ragam pangan, uwi kalah oleh satu jenis karbohidrat yang dianggap “utama”.
Jejak Asia yang Terpelihara
Di Yunnan, Tiongkok, uwi masih hidup sebagai pengetahuan turun-temurun. Para petani setempat merawatnya dengan kesabaran agraris yang nyaris ritualistik: umbi dicetak sejak masih di dalam tanah agar tumbuh lurus dan besar, dipanen setelah satu hingga dua tahun, bahkan hanya sekali dalam tiga tahun demi kualitas maksimal. Di sana, uwi bukan sekadar pangan—ia adalah warisan.
Di Jepang, umbi ini dikenal sebagai nagaimo atau mountain yam. Ia hadir di pasar-pasar Tokyo, diolah menjadi bubur, sup, hingga kuah udon—bahkan menembus dapur New York. Di Taiwan, uwi diperlakukan sebagai bahan kuliner kelas atas: diolah menjadi kue dan dessert yang disajikan di restoran bintang lima. Di Filipina, uwi menjelma ube: selai, cake, es krim halo-halo—ikon rasa yang membentuk identitas kuliner nasional.
Afrika dan Pilihan yang Rasional
Yang paling mencolok adalah Afrika Barat, terutama Nigeria. Dengan iklim relatif kering dan wilayah utara yang bersinggungan dengan Sahara, Nigeria tak memiliki kemewahan sawah padi. Jagung dan sorgum ada, tetapi tak cukup untuk mengenyangkan ratusan juta penduduknya. Negara itu lalu berpaling pada umbi-umbian—dan menemukan jawaban pada uwi (Dioscorea alata).
Keseriusan kebijakan membuat perbedaan. Nigeria membangun sistem budidaya dan pengolahan uwi secara konsisten, menjadikannya tulang punggung ketahanan pangan. Hasilnya tercatat oleh Organisasi Pangan Dunia: Nigeria menjadi produsen uwi terbesar dunia, dengan puluhan juta ton produksi per tahun. Tepung uwi diolah menjadi amala, pangan harian yang mengenyangkan dan terjangkau. Bahkan uwi ungu diolah menjadi edible paper, alternatif kulit lumpia atau rice paperberbasis beras.





