Suku Tengger di Jawa Timur, salah satu masyarakat adat Nusantara yang masih teguh menjaga tradisi dan budaya leluhur, baru-baru ini kembali menggelar upacara Unan-unan. Tradisi yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali ini tidak hanya merupakan ungkapan rasa syukur, tetapi juga simbol penyatuan dengan alam sekaligus upaya memperpanjang bulan dalam kalender suku Tengger.
Seperti dilansir laman Indonesia.go.id, pada tahun 2024, masyarakat Tengger, yang mayoritas pemeluk Hindu Bali, menggelar upacara ini di berbagai desa di kawasan dataran tinggi Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TNGBTS). Upacara ini melibatkan Kabupaten Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan Malang. Masyarakat di setiap desa mempersiapkan 100 tusuk sate, 100 jenis jajanan pasar, hingga 100 tumpeng yang digabung dengan kepala kerbau utuh.
Kerbau dipilih sebagai sesaji karena dipercaya sebagai binatang pertama yang muncul di bumi. Sesaji ini kemudian diletakkan dalam keranda berbentuk tubuh kerbau, atau dikenal sebagai ancak dalam bahasa setempat. Menjelang siang, sesaji akan diarak menuju lokasi persembahyangan, diiringi musik tradisional seperti gong, kendang, dan suling. Arak-arakan ini menunjukkan toleransi yang kuat di antara sesama keturunan suku Tengger, baik yang beragama Hindu Bali, Islam, maupun Buddha.
Upacara unan-unan di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Probolinggo pada Selasa (23/4/2024) menjadi salah satu contohnya. Bagi masyarakat desa yang terletak di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut tersebut, unan-unan digelar sebagai permohonan keselamatan dan agar terhindar dari bencana.
Hal serupa terjadi di Desa Ranupani, Kabupaten Lumajang. Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, menyatakan bahwa unan-unan bukan sekadar ritual syukur, melainkan keharusan untuk menjaga keharmonisan yang diberikan alam kepada suku Tengger. “Unan-unan yang dilaksanakan di Desa Ranupani adalah cermin dari rasa syukur yang mendalam. Ini sebuah warisan leluhur yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali dan suku Tengger menyebutnya sebagai landung. Kami, sebagai bagian dari alam ini, merasa berkewajiban untuk merawatnya. Semoga kita dilindungi dan diberkahi,” kata Agus Triyono.
Suku Tengger memiliki sistem kalender unik, di mana satu tahun terdiri dari 13 bulan. Kata “unan” sendiri bermakna memperpanjang, sehingga unan-unan tidak hanya mempersembahkan rasa syukur tetapi juga sebagai upaya memperpanjang bulan dalam kalender suku Tengger, sekaligus simbol penyatuan mereka dengan alam


