Menurut Thinni, pola tersebut menunjukkan pentingnya pembagian peran yang jelas untuk menjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang.
“Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan, tetapi juga sistem pendanaan yang jelas, terintegrasi, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” katanya.
Tak Sekadar Makan, Tapi Pendidikan Karakter
Yang menarik, program Kyushoku tidak berhenti pada urusan gizi. Program ini terintegrasi dengan pendidikan karakter atau shokuiku.
Siswa dilibatkan langsung dalam proses distribusi makanan, mulai dari menyajikan makanan kepada teman sekelas hingga membersihkan area makan setelah kegiatan selesai.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, kerja sama, serta penghargaan terhadap makanan sejak usia dini.
“Program ini tidak hanya membangun kesehatan fisik anak, tetapi juga membentuk kebiasaan positif dan karakter yang akan mereka bawa hingga dewasa,” ujar Thinni.
Kunjungan ditutup dengan diskusi bersama manajemen sekolah dan komite pendidikan setempat. Temuan mengenai regulasi, pembiayaan, logistik, serta pelibatan masyarakat akan menjadi bahan penelitian lanjutan yang disusun bersama Kyoto University.
Hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat memperkaya pengembangan kebijakan makan bergizi di Indonesia agar tidak hanya efektif meningkatkan status gizi anak, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.***





