Bom yang Menyelamatkan
Setelah ISIS kalah, penderitaan belum usai. Sipan hampir kembali diperjualbelikan. Kali ini lintas negara. “Mereka hendak menjual saya ke Lebanon,” katanya.
Dalam perjalanan, sebuah bom meledak di dekat mobil mereka. Penculiknya tewas. Sipan terluka, tapi hidup. “Bisa dibilang, Tuhan menyelamatkan saya,” ujarnya.
Sebuah keluarga lokal menolongnya. Ia akhirnya kembali ke Irak, lalu direlokasi ke Jerman.
Hidup Baru, Luka Lama
Di Jerman, hidup Sipan perlahan tertata. Ia belajar. Bekerja di Farida Organization, lembaga HAM yang didirikan para penyintas Yazidi. Ia juga mengurus adik-adiknya.
“Kami kehilangan orang tua,” katanya. “Saya yang bertanggung jawab atas mereka.”
Namun luka tak pernah benar-benar hilang.
Ketika melihat gambar kekerasan terhadap warga Kurdi di Aleppo beberapa waktu lalu, ingatannya kembali ke 2014. “Itu seperti mengulang genosida,” katanya. “Jika dunia diam, ini bisa terulang.”
Sipan kini rajin berbicara di forum-forum publik di Jerman. Dari konferensi ke konferensi. Dari satu ruang diskusi ke ruang lain.
Tujuannya satu: agar dunia tidak lupa. “Agar apa yang terjadi pada kami—Yazidi dan Kurdi—tidak pernah terjadi lagi,” katanya.
Sipan selamat. Tapi ceritanya adalah pengingat: genosida bukan hanya tentang masa lalu. Ia bisa kembali—jika dunia memilih berpaling.***