Pembelaan dari Pengurus Pusat
Beberapa pengurus pusat yang mendampingi Gus Yahya dalam forum konferensi daring tersebut ikut menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas organisasi. Mereka menyebut bahwa empat tahun terakhir PBNU membangun banyak struktur transformatif, dan langkah pemecatan sepihak bisa menghancurkan capaian dan legitimasi organisasi di hadapan publik.
“Ada konstruksi besar yang sedang dibangun. Tapi kalau rusak oleh preseden destruktif ini, itu bencana,” tegas salah satu pengurus.
Gus Yahya kini mendorong upaya rekonsolidasi sebagai langkah penyelamatan struktural, sembari meminta seluruh jajaran pengurus tidak terprovokasi dan tetap menjaga persatuan. “Ini saatnya berpikir jernih dan kembali ke mekanisme organisasi. Kita hadapi tantangan besar ini bersama,” jelas Gus Yahya.
Beredar Risalah Rapat Desak Yahya Mundur
Sebelumnya, beredar risalah rapat harian Syuriyah PBNU tertanggal 20 November 2025 yang isinya mendesak Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Stawuf mundur dari jabatannya. Dokumen yang beredar tersebut mencantumkan sejumlah poin evaluasi yang menjadi dasar permintaan agar Yahya mundur.
Risalah rapat harian Syuriyah itu juga disebut telah ditandatangani Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Menurut sumber internal yang hadir dalam pertemuan tersebut, rapat Syuriah digelar sejak sore hingga malam dengan agenda tunggal: mendiskusikan penonaktifan Ketua Umum sebelum masa bakti berakhir.
Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran pihak Tanfidziyah dan tanpa mekanisme pemeriksaan formal, meskipun AD/ART mewajibkan adanya proses pembuktian dan hak pembelaan sebelum pemberhentian dapat diputuskan.
Prahara di internal PBNU diperkirakan akan terus bergejolak dalam beberapa hari ke depan, menunggu langkah kedua pihak: antara konsolidasi atau penguatan manuver politik masing-masing kubu menuju Muktamar.***





