Shiddiq di Saat Krisis: Ketika Jujur Jadi Pilihan Terberat

Menjelang Hari Shiddiqiyyah, ilustrasi ini mengingatkan: krisis akan berlalu, tetapi jejak kejujuran—atau kebohongan—akan tinggal lebih lama dalam ingatan sosial.
Pasar yang Tak Ramah pada Kejujuran

Di pasar, pedagang yang jujur soal kualitas barang sering kalah bersaing. Yang mencampur, mengurangi timbangan, atau memanipulasi label justru lebih cepat laku. Ketika pedagang jujur mengeluh, jawabannya klise: semua juga begitu, kalau tidak ikut, tidak akan bertahan.

Krisis membuat praktik semacam ini terasa wajar. Seolah-olah kejujuran adalah kemewahan moral yang hanya bisa dimiliki mereka yang bermodal besar. Padahal ketika ketidakjujuran menjadi norma, yang paling dirugikan justru konsumen kecil dan pedagang paling lemah.

Kebijakan yang Tampak Tenang, tapi Tak Jujur

Ada kebijakan ekonomi yang di atas kertas terlihat menenangkan. Angka disusun rapi. Grafik tampak stabil. Namun di balik itu, banyak persoalan dibiarkan tak diakui: distribusi yang timpang, dampak kebijakan yang tidak merata, serta suara warga yang tak masuk laporan.

Ketidakjujuran di level ini lebih berbahaya. Bukan karena skalanya besar, melainkan karena menciptakan ilusi aman. Kepercayaan publik jarang runtuh karena krisis semata, tetapi karena merasa tidak diperlakukan jujur.

Bacaan Lainnya
Hari Shiddiqiyyah sebagai Cermin Bersama

Dalam konteks ini, Hari Shiddiqiyyah tidak cukup diperingati sebagai pujian terhadap kejujuran yang abstrak. Ia perlu menjadi cermin kolektif: di mana kita membenarkan kebohongan karena keadaan, siapa yang dipaksa berbohong demi target dan citra, serta sistem apa yang membuat orang jujur terlihat naif dan merugi.

Tanpa keberanian mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, shiddiq akan tinggal kata indah yang jauh dari kenyataan hidup masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *