Pantura Siaga! Fase Bulan Baru Picu Banjir Rob di Pesisir Indonesia

Banjir rob yang melanda kawasan Jakarta Utara pada Desember tahun lalu. - Dok. Samudrafakta
BMKG peringatkan potensi banjir rob di banyak pesisir Indonesia 12–19 Februari 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini banjir pesisir atau rob yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada 12–19 Februari 2026. Peringatan ini menyusul prediksi kenaikan pasang maksimum air laut akibat fase Bulan Baru pada 17 Februari 2026.

Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, menjelaskan fenomena tersebut dipicu kondisi astronomi yang memperkuat gaya tarik bulan terhadap laut sehingga meningkatkan ketinggian muka air laut.

“Berdasarkan hasil pemantauan data water level dan prediksi pasang surut, terdapat potensi peningkatan pasang maksimum air laut di sejumlah pesisir Indonesia,” ujar Eko dalam keterangan resmi BMKG, dikutip Rabu (12/2/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut BMKG, fase Bulan Baru pada 17 Februari 2026 menjadi faktor utama yang memicu pasang maksimum. Dalam kondisi ini, gaya gravitasi bulan dan matahari berada dalam satu garis relatif sejajar terhadap bumi, sehingga memperkuat gaya tarik terhadap massa air laut.

Fenomena ini bersifat periodik. Namun dampaknya dapat berbeda di setiap wilayah, tergantung topografi pesisir dan faktor meteorologis setempat.

Pantura Jawa Paling Rawan

BMKG mengidentifikasi pesisir utara Pulau Jawa sebagai salah satu wilayah paling rawan selama periode 12–19 Februari 2026. Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi pesisir utara DKI Jakarta serta sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Demak, Pekalongan, Kendal, Jepara, Tegal, dan Brebes.

Selain Pantura Jawa, potensi rob juga meluas ke berbagai provinsi lain. Di Pulau Sumatera, wilayah yang masuk dalam daftar potensi terdampak antara lain Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat.

Di Jawa dan Bali, wilayah pesisir Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, serta Bali juga masuk dalam pemantauan. Sementara itu, di Kalimantan, potensi serupa terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Wilayah lain yang berisiko meliputi Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, serta Nusa Tenggara Barat.

Pos terkait