Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan.
Dengan kata lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang ‘taqabbalallahu minna wa minkum’. Namun, bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik—seperti minal ‘aidin walfaizin—tidak diperbolehkan.
Dalam bahasa Indonesia, minal ‘aidin wal faizin berarti “semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan”.
Jika mendapatkan pesan seperti itu, semestinya orang yang mengucapkannya tidak memaknainya sebagai, “kembali pada kemaksiatan pasca-Ramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan”.
Yang kurang tepat adalah memaknai minal ‘aidin wal faizin sebagai “mohon maaf lahir batin”—hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan membahasa-Inggriskan “keset” dengan “welcome”.
Yang lebih pas kalimat tersebut adalah, “ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin ilal fithrah wal faizin bil jannah, yang artinya, “semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga.”
‘Minal ‘Aidin’, maksudnya adalah mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci, berdasarkan keyakinan pada hadits Nabi Muhammad Saw. yang mengisahkan bahwa orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa.
Sementara panjatan doa, “semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga – wal faizin bil jannah—sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu.◼︎





