Semakin parah pencemaran sungai, semakin mati ikan lokal. Namun, di tempat yang sama, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat. Dosen Unair ungkap ironi ini.
Fenomena menjamurnya ikan sapu-sapu di berbagai sungai dengan tingkat pencemaran tinggi mendapat sorotan dari akademisi Universitas Airlangga (Unair). Spesies asing ini justru dominan di perairan rusak karena daya tahannya yang luar biasa.
Dr Veryl Hasan SPi MP, dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, menjelaskan, pada sungai dengan kualitas air rusak, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya, ikan sapu-sapu tetap hidup dan berkembang pesat.
“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl, , Rabu (22/4/2026).
Spesies Asing Tanpa Predator Alami
Veryl menuturkan, ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan. Di habitat aslinya, ikan ini merupakan ikan lokal biasa yang bahkan aman dikonsumsi masyarakat setempat.
Persoalan muncul ketika spesies tersebut masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing tanpa predator alami yang memadai.
“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelasnya.
Ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai predator oportunis. Ikan ini memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di sungai, mulai dari tumbuhan air hingga hewan berukuran kecil.
Kunci Utama: Perbaiki Habitat, Bukan Sekadar Tangkap
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Veryl menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke sungai. Menurutnya, aturan harus diikuti pengawasan dan tindakan nyata di lapangan.
Selain itu, kualitas air sungai perlu dipulihkan melalui pengendalian pencemaran. Jika kondisi sungai membaik, lebih banyak ikan lokal dapat hidup dan kembali menyeimbangkan ekosistem.
“Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tuturnya.
Langkah Nyata dan Peringatan untuk Masyarakat
Sebagai langkah tambahan, ia menyarankan pemberantasan manual dengan menangkap ikan sapu-sapu. Ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan ikan hias.
Veryl juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas.
“Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkasnya.
Unair mengingatkan: memulihkan kualitas air adalah satu-satunya cara agar ikan lokal bisa kembali. Masyarakat diminta berhenti membuang limbah ke sungai dan tidak melepas ikan eksotik ke alam bebas.***





