Menurut studi terbaru perusahaan riset GlobalWebIndex, 80 persen Gen Z mengaku kesepian selama setahun terakhir. Tingkat kesepian generasi ini lebih tinggi dibandingkan generasi lainnya, seperti milenial (72 persen), X (60 persen), dan baby boomers (45 persen).
Sebagai informasi, GlobalWebIndex adalah perusahaan riset pasar yang mengkhususkan diri dalam penelitian perilaku konsumen online di 32 negara, mewakili 90 persen pengguna internet global.
“Gen Z adalah generasi paling kesepian karena mereka mewarisi dunia yang secara fundamental rusak,” ujar konsultan HR dan ahli generasi, Bryan Driscoll kepada Newsweek, dikutip Senin, 23 Desember 2024.
Driscoll menambahkan, Gen Z disebut merasakan tekanan status sosial yang paling berat dibandingkan generasi lainnya. Sebanyak 16 persen generasi ini mengaku jika tekanan itu memperburuk kesepian mereka.
Berbagai permasalahan zaman ini, seperti harga perumahan yang tidak terjangkau, ketidakpastian pekerjaan, serta tekanan media sosial menjadi faktor utama penyebab tekanan yang berujung kesepian.
Gen Z juga menghadapi dampak signifikan pandemi Covid-19. “Masa isolasi selama pandemi telah meninggalkan efek jangka panjang pada harga diri, kepercayaan sosial, dan kesejahteraan emosional mereka,” ujar Driscoll.
Teknologi juga berperan membentuk perasaan sendiri generasi ini. Psikoterapis Nicholas Hardy menyebut bahwa teknologi, yang awalnya dirancang sebagai pelengkap, kini digunakan sebagai pengganti interaksi manusia.
“Hal ini menciptakan ilusi koneksi dan komunitas, sehingga banyak yang kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk membangun hubungan yang sehat,” ujarnya.
Peneliti lembaga Fokus Kesehatan Indonesia (FKI), Nila Moeloek, mengamini jika tren kesepian Gen Z dipicu berkembangnya dunia digital.
“Di dunia digital ini, banyak orang mengalami kesendirian, karena kita berteman dengan HP. Bangun tidur yang dicari HP dulu, ada apa di WhatsApp, bukannya bersyukur kepada Tuhan. Di meja makan, cucu dan anak saya main HP. Anak-anak temannya HP, bukan teman sebayanya,” kata Menteri Kesehatan 2014-2019 itu di Jakarta, Rabu, 18 Desember 2024.***





