Ia juga menggunakan metode co-solvent untuk menekan lonjakan temperatur saat reaksi berlangsung.
“Co-solvent tersebut berfungsi sebagai regulator termal alami untuk menekan lonjakan temperatur serta menjaga produksi hidrogen stabil dan terkontrol,” kata Kepala Laboratorium Material Fungsional Maju Departemen Teknik Fisika ITS itu.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi dengan University of Exeter, Universitas Kristen Petra Surabaya, Aeramine Ltd, Gringgo Indonesia, serta PLN Nusa Power.
Doty berharap inovasi tersebut dapat memperkuat pengembangan energi bersih di Indonesia, sekaligus memberi nilai tambah pada limbah logam yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.***





