Mulyanto menambahkan, kualitas barang yang digunakan untuk menunjang operasional smelter juga mesti dicek. Apalagi, menurut dia, sebagian besar alat kerja di smelter milik China diimpor dari China juga. “Kita perlu tahu. Jangan-jangan barang dan suku cadang yang dipakai tidak memenuhi syarat yang ditentukan,” tuturnya.
Menurut Mulyanto, insiden di PT ITSS mesti menjadi pelajaran berharga yang benar-benar dipahami. Apalagi, kata dia, ledakan ini menjadi ledakan terbesar dalam sejarah pengoperasian smelter milik perusahaan China di Indonesia. Karena itu, Mulyanto meminta agar pemerintah bersunguh-sungguh menindaklanjuti kasus ini sehingga penyebab ledakan bisa diketahui.
“Apakah karena faktor lemahnya keandalan pabrik, murni faktor kelalaian manusia, atau ada sebab-sebab lain? Pemerintah bertanggung-jawab untuk mengusut tuntas kasus ini,” kata Mulyanto.
Ia juga mengatakanbahwa insiden di PT ITSS harus menjadi momentum pemerintah untuk mengevaluasi semua kesepakatan kerja sama dengan perusahaan China. “Pemerintah harus mencari akar-masalahnya sehingga dapat dicegah kejadian seperti ini berulang di masa depan,” katanya.*





