Konflik rumah tangga meningkat, jutaan anak terancam dampak mental serius akibat perceraian dan disfungsi keluarga di Indonesia.
Fenomena perceraian di Indonesia kian meningkat, memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan mental anak yang tumbuh dalam konflik orang dewasa. Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II 2025 mencatat angka cerai hidup mencapai 5.591.324 jiwa dari total 137 juta penduduk menikah.
Kondisi ini tidak hanya mencerminkan persoalan relasi orang dewasa, tetapi juga memperbesar risiko munculnya fenomena broken home atau disfungsi keluarga yang berdampak langsung pada anak.
Dampak Nyata pada Perilaku Anak
Pakar Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana MSc MPsi, menegaskan bahwa konflik dalam keluarga dapat mengganggu perkembangan mental anak secara signifikan.
“Dalam perspektif psikologi, broken home muncul akibat konflik tinggi yang menyebabkan keluarga tidak lagi berfungsi secara optimal. Dampaknya sangat terasa pada anak,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Menurut Atika, anak dari keluarga tidak harmonis cenderung mengalami perubahan perilaku yang cukup mencolok. Mereka bisa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami penurunan prestasi akademik.
Selain itu, anak juga berpotensi menunjukkan gejala emosional seperti kemarahan, kecemasan, hingga ketakutan berlebih. Kondisi ini dipicu oleh krisis kepercayaan yang seharusnya terbentuk dalam lingkungan keluarga.
Perlu Pendampingan dan Intervensi Profesional
Atika menjelaskan, ada dua kondisi yang mengharuskan anak mendapatkan bantuan profesional. Pertama, ketika perubahan perilaku anak semakin memburuk. Kedua, ketika keluarga tidak mampu menyediakan dukungan emosional yang sehat, terutama jika terdapat unsur kekerasan.
“Dalam kondisi tersebut, anak perlu ditempatkan di lingkungan yang aman dan mendapatkan pendampingan dari psikolog, konselor, atau psikiater,” jelasnya.
Meski demikian, tidak semua anak dari keluarga broken home akan mengalami gangguan mental. Peran orang tua tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas psikologis anak.
Komunikasi yang terbuka dan pendampingan yang konsisten dinilai mampu membantu anak menyalurkan emosi serta mencegah rasa keterasingan.
Dari sisi perkembangan, pendekatan terhadap anak juga perlu disesuaikan dengan usia dan kematangan emosional. Anak kecil membutuhkan pendampingan intensif, sementara anak yang lebih dewasa memerlukan ruang komunikasi yang sehat.
Atika menegaskan, anak bukanlah penyebab konflik dalam keluarga. Karena itu, mereka tetap perlu diarahkan untuk fokus pada masa depan dan cita-citanya.
“Konflik terjadi antara orang dewasa. Apa yang terjadi dalam keluarga saat ini tidak menentukan masa depan anak,” tegasnya.***

